Beberapa keburukan pacaran

1. Berbuat sia-sia

    Keburukan tingkat paling rendah dari mengadakan hubungan secara khusus dengan lawan jenis yang bukan mahram adalah menyia-nyiakan waktu. Mengapa? Sejauh pengamatan saya, hubungan semacam ini pasti dibarengi dengan berduaan, jalan bareng, atau paling tidak saling bicara secara khusus dan di dalamnya ada keadaan dimana kedua orang saling melempar kata-kata tak bermanfaat.

    2. Memandang yang haram

    Seperti yang telah disebutkan, tak mungkun seorang (dua orang) yang mengadakan hubungan ini dalam keadaan saling membelakangi dan tidak saling menatap satu sama lain. Dalam keadaan ini akan terjadi sesuatu yang disebut dengan pandangan haram. Karena keduanya bukan suami istri atau mahram. Apalagi kalau salah seorang atau keduanya tidak menutup aurat secara benar. Tambah parah. Pandangan seperti ini yang akhirnya akan menimbulkan syahwat. Dan akhirnya akan mengantar ke stasiun maksiat yang sangat parah.

    Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q.S.Annur:30)

    Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya(Q.S.Annur:31)

    3. Menyentuh yang haram

    Tingkat berikutnya, menyentuh yang bukan mahram dan bukan suami atau istri. Dan telah disabdakan oleh Rasulullah, bahwa lebih baik kepala ditusuk dengan besi daripada menyentuh yang bukan haknya. Secara logika kalau ditusuk dengan besi itu lebih baik, maka hukuman untuk menyentuh yang bukan haknya tentu jauh kebih berat. Padahal kalau anak pacaran bilang,”pacaran gak afdol kalau ga gandengan tangan.” parah bukan?

    4. Zina

    Ini dia pelanggaran kelas berat yang salah satu pintunya adalah dengan mengadakan hubungan ”tersebut”. Kalau dalam Al Qur’an, hukumannya cukup berat. Didera seratus kali. Coba bayangkan saja, sakitnya sekali. Bagaimana kalau seratus kali. Itu kalau dihukum di dunia. Kalau mati sebelum taubat, akhiratnya? Sulit dibayangkan.

    Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (Q.S.Annur:2)

    5.  Aborsi

    Menurut saya yang ini adalah satu keburukan yang paling buruk diantara keburukan lain dari pacaran. Yang satu ini adalah akumulasi dari berbagai bentuk keburukan yang ada dalam pacaran. Pertama, melihat, tumbuh nafsu, lalu bergandengan tangan, lalu terjerumus ke lembah zina. Dan akhirnya, kalau zina itu menimbulkan ”akibat”, akhirnya…. pembunuhan! Meskipun yang terakhir ini tidak selalu terjadi setelah pelanggaran yang ke-4.

    Setelah mengetahui beberapa akibat buruk dari pacaran, diharapkan para pemuda muslim lebih tahu akan dirinya. Hendaklah ia selalu ingat akan keislamannya. Hendaklah mereka ingat bagaimana memalukannya seorang pemuda yang seharusnya menjadi penerus tegaknya agama, malah melanggar dan mengacak-acak harga dirinya sebagai seorang muslim dengan melakukan pelanggaran-pelanggaran yang nyata.

    May 16, 2009 at 7:46 am 2 comments

    Rahasia Pagi

    Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al-mu’minun :9-11)

    Every muslim knows what is this praying, praying in islam atau sholat di dalam islam menempati kedudukan yang tak dapat ditandingi oleh ibadat manapun juga karena Sholat adalah tiang agama sebagai mana sabda Rasulullah saw

    ” pokok urusan adalah Islam, sedang tiangnya ialah Sholat, dan puncaknya adalah berjuang dijalan allah”

    Kita tahu bahwa islam amat menantang orang yang menyianyiakan dan mengancam orang lalai dari sholat. Sebagaimana firman Allah ’azza wa jalla.

    Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan, (Q.S. Maryam: 59)

    Serta,
    Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (Q.S. al-Ma’un :4-5)

    Pada kesempatan kali ini saya ingin membahas tentang salah satu sholat sunnah yang sering kita lupakan begitu saja padahal sholat ini memiliki keutamaan yang banyak, sebagai mana Sabda Rasullullah saw berikut

    ”Dalam tubuh manusia itu ada tigaratus enampuluh ruas tulang. Ia diharuskan bersedekah untuk tiap ruas itu. Para sahabat bertanya : “siapa yang kuat melaksanakan itu ya Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Dahak yang ada di masjid lalu ditutupnya dengan tanah, atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti sedekah, atau kiranya kuasa cukuplah diranti dengan mengerjakan dua rekaat sholat Dhuha.”

    Syaukani says : “ Dua rekaat sholat Dhuha dapat menggantikan tigaratus enampuluh kali sedekah,” subhanallah. Sungguh kasihan kita karena ketidak tahuan kita, jika kita meninggalkan sholat ini berarti kita telah menghilangkan banyak sedekah. Astagfirullah.
    Selain itu ada sebuah hadits yang mengatakan kalau kita mengerjakan empat rekaart sholat Dhuha maka kita akan mendapat kebutuhan kita pada sore harinya. Dari Nuwas bin sam’an r.a bahwa Nabi saw bersabda:

    “Allah ‘azza wa jalla berfirman: “wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rekaat pada permulaan siang (yakni sholat Dhuha), nanti akan kucukupi kebutuhanmu pada sore harinya.”

    Hukum sholat ini adalah sunnah,sebagaimana sabda Rasulullah, yang artinya:
    “Rasulullah s.a.w selalu sembahyang Dhuha sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya, tetapi kalau beliau sudah meninggalkannya sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah mengerjakannya.”

    Dan waktu mengerjakannya adalah saat matahari sudah naik kira-kira sepenggalah dan berakhir di waktu matahari lingsir, tetapi di sunnahkan mengundurkannya sampai matahari agak tinggi dan panasnya agak terik. Sebagai mana sabda beliau. Dari Zaid bin Arqam r.a

    “Nabi s.a.w. ke luar menuju tempat ahli Quba’. Di kala itu mereka sedang bersembahyang Dhuha. Beliau lalu bersabda: ”ini adalah sholat orang-orang yang sama kembali pada Allah swt yakni di waktu anak-anak unta telah bangkit karena kepanasan waktu Dhuha.”

    Sungguh menyesalnya kita bila kita tidak manyampatkan diri untuk melaksanakannya, padahal setiap pagi kita memiliki kesempatan untuk melakukannya, lagi pula Rasulullah pernah berkata kepada Anas r.a bahwa dua dari tiga permintaa beliau dikabulkan oleh Allah swt.
    Sebagai penutup kesempatan kali ini marilah kita merenungi lagi bagai manakah kehidupan kita setelah kita mengetahui keutamaan sholat Dhuha, akankah kita menjalankannya atau cuak terhadapnya jika kita ingin melakukannya karena Allah marilah kita membuat sebuah planning-planning atau perencanaan-perencanaan atau kalau kita sudah memiliki planning kita cukup meralat atau mengubah planning- planning yang telah kita buat untuk kemudian memasukkan planning untuk melakukan sholat Dhuha sebagai kegiatan yang kontinu, misal sebulan sekali atau seminggu sekali atau seminggu dua kali atau bahkan semunggu lima kali.
    Dengan begitu kita bisa menyempatkan waktu sibuk kita selama beberapa menit untuk beristirahat dengan mengerjakan sholat Dhuha beberapa rekaat, secara logika bila kita memanfaat kan waktu istirahat kita untuk melaksanakan sholat Dhuha kita bisa mendapatkan dua kebaikan yaitu istirahat dan menenangkan pikiran kita serta yang kedua mendapatkan pendekatan ruhani kepada sang pencipta kita.
    Semoga kita bisa melaksanakan sebuah amalan yang penuh keutamaan ini dan mendapat ridho dari Allah dengan hati yang bersih dan ikhlas. Dan semoga kita termasuk kedalam orangyang diberi naungan atau syafa’at saat di padang mahsyar.

    zhain arrasyid

    May 16, 2009 at 7:34 am Leave a comment

    Tafsir Surat Al fatihah

    DALAM AL-QUR’AN, surat Al-Fatihah tercatat sebagai surat ke 114,
    yang terdiri dari 7 ayat. Secara umum, ayat demi ayat serta surat demi
    surat yang ada dalam al-Qur’an memanglah penting. Ia tetap menjadi
    landasan spiritual yang urgen bagi setiap muslim. Keseluruhan huruf demi
    huruf yang ada dalam al-Qur’an menjadi pegangan teologis kaum
    muslimin yang tidak bisa ditawar lagi. Namun, secara spesifik, surat
    al-Fatihah memiliki banyak “kelebihan” dibanding dengan
    surat-surat lain. Atau, setidaknya, ia memiliki keistimewaan berbeda
    dibandingkan dengan keistimewaan surat lain.
    Sekedar menyebut salah satu keistimewaan surat al-Fatihah adalah bahwa ia
    merupakan satu-satunya surat yang wajib dibaca saat seorang muslim
    melakukan shalat — dan shalat sendiri merupakan satu-satunya format
    ibadah vertikal yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Nabi Muhammad
    Saw bahkan bersabda bahwa shalat seorang muslim tidak sah jika tidak
    membaca surat al-Fatihah (Lâ sholâta liman lam yaqra’
    bi-fâtihatil Kitâbi). Dalam kesempatan lain, Nabi Saw juga
    menyatakan bahwa al-Fatihah merupakan induk al-Qur’an
    (Ummul-Qur’ân). Masih banyak lagi maqôlah atau dedhawuhan
    Nabi Muhammad Saw yang, intinya, menegaskan kelebihan surat al-Fatihah
    dibanding surat-surat lain dalam al-Qur’an.
    ***
    Mengapa surat al-Fatihah begitu urgen dan exclusive? Jika ditinjau dari
    sisi contains, materi yang dibicarakan — atau tepatnya dinasehatkan
    — dalam surat al-Fatihah ternyata sangatlah penting, khususnya bagi
    proses rekonstruksi teologi kaum muslimin atau bahkan manusia
    keseluruhannya. Berikut ini sedikit keterangan materi surat al-Fatihah
    dari ayat per ayat.

    [1] Bismillâhirrahmânirrahîm. “Dengan menyebut nama
    Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
    Ayat pertama ini menegaskan pentingnya penyebutan atau tepatnya pengakuan
    manusia atas kuasa Tuhan, atas keesaan-Nya dan atas segala kebesarann-Nya.
    Manusia diajarkan — dan diharuskan — mengakui ke-Maha
    Pemurah-an Tuhan dan ke-Maha Penyayang-an-Nya. Di sini,
    pengakuan-pengakuan itu merupakan harga mati atas setiap manusia. Jadi,
    ayat ini bukan sekedar mengajarkan ‘penyebutan’ unsich atas
    [nama] Tuhan, melainkan deklarasi atas kebesaran-Nya, yang pada ayat itu
    direpresentasikan melalui lafadz  ar-rahmân dan ar-rahîm.

    [2] Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn. “Segala puji
    bagi Tuhan, [yaitu] Tuhan bagi semesta alam”.
    Setelah manusia mengakui segala kebesaran Tuhan, maka pada ayat kedua ini
    Tuhan melalui surat al-Fatihah menasehatkan manusia supaya melakukan
    pendekatan pribadi kepada-Nya, yaitu dengan cara memuji-Nya. Ini adalah
    langkah pertama yang harus dilakukan manusia setelah ia menegaskan
    pengakuan tadi. Sebenarnya, kebesaran Tuhan tidaklah berkurang tanpa
    pujian manusia dan segenap makhluk, dan kebesaran-Nya pun tidak pula
    bertambah dengan adanya pujian-pujian itu. Dengan demikian, ayat ini
    sebenarnya lebih menekankan kepada pengajaran [at-Ta’lîm] dan
    pendidikan [at-Tarbiyah] kepada manusia bagaimana dia berkomunikasi dengan
    Tuhan yang telah dikenalnya tadi.
    Pujian kepada Tuhan bukan tanpa sebab. Ia adalah pujian atas seluruh
    kenikmatan yang telah diterima manusia. Kenikmatan terbesar dari Tuhan
    kepada manusia, pada titik ini, adalah kenikmatan berupa pengetahuan
    manusia atas Tuhannya. Ia bukan kenikmatan dalam arti sempit seperti
    limpahan rezeki material dan semacamnya. Pada saat seorang hamba membaca
    ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw, maka Allah Swt
    mengikutinya dengan ucapan hamida-nî ‘abdî, hambaku telah
    memujiku. Masih menurut Nabi Muhammad Saw, pada saat hamba mengucapkan
    ayat ini, maka itu berarti hamba tersebut bersyukur kepada Tuhan, sehingga
    Tuhan pun akan menambahi rezeki.

    [3] Arrahmânirrahîm. “[Tuhan] Yang Maha Pemurah lagi Maha
    Penyayang”.
    Pengulangan pujian ini untuk sebuah penegasan. Ar-Rahmân bermakna
    [Tuhan] yang Maha Pemurah, atau Pengasih. Dia mengasihi seluruh makhluk
    yang ada di dunia, baik yang beriman atau yang bukan. Sedangkan
    ar-Rahîm bermakna mengasihi seluruh orang-orang yang beriman kelak di
    akhirat.
    Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi
    Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan atsnâ ‘alayya
    ‘abdî, hambaku telah memuji kepadaku.

    [4] Mâliki Yawmiddîn. “[Tuhan] Yang menguasai hari
    kiamat
    ”.
    Pengakuan sekaligus juga pujian, bahwa hanya Tuhanlah yang berkuasa pada
    hari kiamat. Ini merupakan pujian ketiga berturut-turut, dan begitulah
    pendidikan dari Tuhan kepada manusia.
    Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi
    Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan majida-nî
    ‘abdî, hambaku telah memujiku.

    [5] Iyyâka Na’budu… “Hanya Engkaulah yang kami
    sembah”…
    Setelah Tuhan mengajarkan manusia untuk melakukan pendekatan dengan
    memuji-Nya, maka pada ayat kelima ini Tuhan memberikan pendidikan baru :
    yaitu, setelah manusia melakukan puja dan puji kepada Tuhan, manusia
    meneguhkan diri dengan melakukan deklarasi untuk secara konsisten
    menyembah kepada-Nya.

    Pada ayat di atas, Tuhan menggunakan kalimat Iyyâka Na’budu,
    yang berarti Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan bukan kalimat
    Na’budu-Ka, yang berarti Kami menyembah kepada-Mu. Pada kalimat
    pertama secara jelas menegasikan seluruh hal dan hanya menyembah Tuhan,
    sedangkan kalimat kedua bisa bermakna Kami menyembah kepada-Mu, tapi juga
    mengagungkan yang lain.

    [5] wa Iyyâka Nasta’în. “…dan hanya kepada
    Engkaulah kami mohon pertolongan”.
    Setelah mengajari manusia tentang metode pendekatan terhadap Tuhan,
    beberapa pujian serta penegasan tentang sesembahan, barulah Tuhan
    mengajarkan bahwa setelah manusia melakukan hal itu semua, maka manusia
    diberi “kesempatan” untuk meminta pertolongan dan
    perlindungan. Dan pertolongan serta permintaan itu dilakukan manusia hanya
    ditujukan kepada Tuhan, bukan yang lain. Maka tepatlah kalau Tuhan
    menggunakan kalimat wa Iyyâka Nasta’în, yang berarti dan
    hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

    Pada saat seorang hamba membaca ayat kelima ini, sebagaimana disabdakan
    oleh Nabi Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan hadza baynî
    wa bayna ‘abdî, wa li-‘abdî mâ sa-ala, ini
    adalah [urusan] antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku, [kuberikan]
    apapun yang dia minta.
    Sampai pada ayat ini, kita sebenarnya sudah bisa menangkap sebagian
    falsafah dari surat al-Fatihah. Ringkasnya, hingga ayat ke 5 ini, adalah
    sebagai berikut :
    [i] manusia hendaklah mengenal Tuhannya, dan menjadikan Tuhannya sebagai
    satu-satunya elemen penting dalam melakukan sesuatu.
    [ii] manusia hendaklah melakukan pujian-pujian terhadap Tuhannya. Ia tentu
    bukan bermakna sekedar pujian secara oral, melainkan meliputi juga
    pengakuan penuh dari lubuk qalbu manusia atas segala kebesaran dan
    keagungan Tuhan. Pujian-pujian itu merupakan alat untuk melakukan
    pendekatan-pendekatan.
    [iii] setelah melakukan pujian-pujian, manusia meneguhkan diri bahwa
    kepada Tuhan-lah ia menyembah, dan sama sekali tidak melakukan sesembahan
    atau pengagungan kepada yang lain.
    [iv] setelah mengenal Tuhannya, melakukan pujian dan
    pendekatan-pendekatan, serta peneguhan ketuhanan sang Tuhan, maka manusia
    menyatakan diri bahwa hanya kepada-Nya pula para manusia melakukan
    permintaan dan pertolongan.

    [6] Ihdinas-Shirâthal Mustaqîm. “Tunjukilah kami jalan
    yang lurus”,
    Pengajaran Tuhan selanjutnya ; manusia tidak bisa berbuat sombong, oleh
    karenanya ia diajarkan untuk selalu memohon dan meminta, yang dalam hal
    ini adalah permintaan untuk sebuah kebenaran. Dan hanya kepada Tuhan
    sajalah manusia itu memohon kebenaran. Makna kebenaran atau jalan yang
    lurus di sini tentulah tidak sederhana, namun ia disimplifikasi pada ayat
    berikutnya.

    [7] Shirâthalladzîna An’amta ‘Alayhim
    Ghoyril-Maghdhûbi ‘Alayhim walâdh-Dhôllîn.
    “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat
    kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)
    mereka yang sesat”.
    Kenikmatan Tuhan hanyalah diberikan kepada orang-orang yang Dia kehendaki,
    dan itu bukanlah kepada orang-orang yang dimurkai dan yang memilih jalan
    sendiri. Abdullah ibn Abbas menyebutkan bahwa orang-orang yang telah
    dianugerahi kenikmatan oleh Tuhan, di antaranya, adalah para nabi dan
    orang-orang yang saleh, orang yang bersih jiwanya.
    Pada saat seorang hamba membaca ayat keenam dan ketujuh, sebagaimana
    disabdakan oleh Nabi Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan
    — sama dengan pada ayat kelima — hadza baynî wa bayna
    ‘abdî, wa li-‘abdî mâ sa-ala, ini adalah
    [urusan] antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku, [kuberikan] apapun
    yang dia minta.
    ***
    Demikianlah sekilas keterangan dari surat al-Fatihah. Semoga bermanfaat.
    [Lasem, 18/4/2009].

    M. LUTHFI THOMAFI

    May 13, 2009 at 6:43 am Leave a comment

    Indahnya memaafkan

    Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

    خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

    Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’raf 7:199)

    Dalam ayat lain Allah berfirman:

    وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

    “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

    Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur’an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

    … dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

    Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an :

    الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

    “Yaitu orang2 yang menginfakkan hartanya ketika lapang dan sempit dan menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)

    Menurut Harun Yahya Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung. (more…)

    May 8, 2009 at 6:21 am Leave a comment

    Belajar dari pohon pisang

    Pohon pisang, pohon yang bisa dibilang “multifungsi”. Buah, sama-sama kita tahu enak dan bergizi. Daun, biasa digunakan untuk membungkus makanan, membuat pepes, dsb. Dari daun, buah, bunga, bahkan batangnya dapat dimanfaatkan. Pernahkah kita perhatikan pohon pisang yang berbuah? Apa artinya ketika pohon pisang telah menampakkan buahnya? Itu berarti tinggal menghitung hari hingga saat-saat kematiannya. Namun, pernahkah kita perhatikan? Ketika pohon pisang berbuah, pasti sudah ada tunas baru tumbuh di bonggolnya.

    Lalu, apa yang dapat diambil dari kematian pohon pisang? Ya, kita harus bisa berguna bagi orang lain sebelum ajal menjemput. Seseorang pernah berkata,”orang yang paling sukses adalah orang yang paling dapat berguna bagi orang lain.” Jadi, ketika semakin banyak orang yang sukses karena kita, di situlah letak kesuksesan kita. Tetapi, kesuksesan itu tetap ada batasannya. Kesuksesan yang seperti itu hanya dapat dicapai dengan keimanan kepada Allah. Ingat! Bahwa salah satu syarat diterimanya sebuah amal adalah keimanan kepada Allah. Seumpama kita jadi seorang motivator. Sudah ribuan orang yang kembali memiliki semangat hidup karena kita. Nama kita sudah terdengar ke mana-mana. Dan banyak orang bwerterimakasih kepada kita. Tetapi ketika semua yang kita lakukan sehingga kita mendapatkan semua itu tidak dilandasi dengan iman dan dengan tujuan hanya mencari ridha Allah, itu sama saja “nol besar”. Itu yang pertama.

    Lalu, yang kedua yaitu strategi. Dari pohon pisang yang mati akan tumbuh satu, dua , atau bahkan tuga tunas bari. Dari yang ini dapat diambil, bahwa ketika kita sudah bermanfaat bagi orang lain, berikutnya yang harus kita pikirkan yaitu, bagaimana kemanfaatan kita itu dapat terus bermanfaat bagi orang lain di waktu mendatang. Salah satu kesuksesan yang paling mudah ditularkan adalah ilmu. Ilmu yang terus-menerus ditularkan itu seperti pohon pisang yang terus berbuah dan mengelurkan tunas. Ketika kita punya ilmu yang didapat dari guru, lalu kita amalkan. Terus kita ajarkan pada teman di sekitar kita. Lalu teman itu mengajarkan ke teman lainnya. Begitu seterusnya hingga ilmu itu akan terus digunakan dan bermanfaat. Tentu saja dengan tambahan nasehat untuk menularkan ilmu tersebut. Dengan terus digunalannya ilmu tersebur, pahala akan terus mengalir meski kita telah ,mati. Itu salah satu contoh. Dan masih banyak contoh yang lain.

    zaid171

    March 24, 2009 at 10:35 am Leave a comment

    Belajar dari padi

    Tidakkah kita perhatikan bulir-bulir padi yang ada di sawah-sawah? Ya, petani yang menanamnya. Suatu hari bulir-bulir itu tidak ada. Lalu ketika tanaman padi mulai dewasa, bulir-bulir itu mulai bermunculan. Perlahan tapi pasti, dari kecil terus tumbuh berkembang.
    Pernahkah kita perhatikan, ketika padi itu mulai berisi, lama-kelamaan ia akan semakin merunduk. Tentu saja karena memang masanya bertambah. Namun apakah kita pernah pikirkan? Padi itu mirip dengan kita. Suatu hari kita diciptakan, lalu muncullah kita. Lalu suatu hari kita diajari berbagai hal. Belajar berbagai macam hal.
    Tidakkah kita sadar? Ketika kita sedang belajar, itu seperti ketika bulir-bulir padi tumbuh. Lalu apa yang dapat kita ambil dari itu? Ya, semakin berisi padi itu, maka ia akan semakin merunduk. Begitu pula dengan kita. Semakin kita berilmu, seharusnya semakin merendah kita. Semakin berilmu seharusnya kita semakin sadar bahwa kita masik banyak belum tahu.
    Semakin berilmu, seharusnya kita semakin bersyukur kepada Allah dan semakin merasa rendah di hadapan Allah. Karena kita ketahui bersama, semua ilmu asalnya dari Allah. Ketika kita mendapatkan atau mempelajari ilmu maka kita sedang mempelajari ilmu milik Allah. Nah, kalau kita sudah tahu bahwa sesungguhnya pemilik semua ilmu Allah, kembali kepada masalah awal, kita tidak boleh menyombongkan diri di hadapan manusia. Karena sesungguhnya ilmu yang kita miliki adalah kecil di hadapan ilmu Allah.
    Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim?
    1. Terus belajar dan belajar (menuntut ilmu). Seperti yang telah disabdakan oleh rasulullah,”menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Selain itu dari menuntut ilmu kita juga mendapat keuntungan, yaitu diangkat derajatnya oleh Allah.”Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu ’berlapang-lapanglah!’ dalam suatu majlis, maka lapangkanlah. Dan jika dikatakan kepadamu ’berdirilah!’ maka berdirilah! Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Al Mujadilah: 11)
    2. Menularkan ilmu yang dimiliki kepada sesama manusia. Salah satu cara mensyukuri nikmat yang diberikan Allah untuk kita adalah memaginya kepada sesama manusia. Ilmu juga termasuk. Kita harus menebarkan kebenaran yang kita ketahui kepada sesama manusia. Selain itu ketika ilmu yang kita tularkan itu tetap dipakai hingga kita telah meninggal, pahala amalan itu tetap mengalir ke kita. Seperti yang telah disabdakan Rasulullah,”jika telah mati anak adam, terputuslah semua amalannya. Kecuali tiga perkara: sadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya.”
    3. Tidak sombong di hadapan manusia. Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa ilmu kita di hadapan ilmu Allah adalah sangat kecil. Lagi pula belum tentu ilmu kita adalah yang paling tinggi di hadapan manusia lain. Selain itu Allah juga amat benci terhadap manusia yang sombong.
    4. Tidak banyak bicara kecuali yang bermanfaat. Seperti bulir padi, tak akan terlihat isinya, kecuali ketika ia akan dimanfaatkan. Begitu pula kita. Ketika pembicaraan itu tak akan menimbulkan manfaat atau tidak dalam rangka menularkan ilmu, apalagi pembicaraan maksiat, lebih baik kalau kita diam saja. Seperti yang disabdakan Rasulullah,”barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam.”
    5. Amar ma’ruf nahi munkar. Ketika kita punya ilmu kita dapat melakukan amalan yang satu ini. Mengapa? Karena yang satu ini memang harus di dasari dengan ilmu. Tanpa tahu ilmunya kita tidak dapat mengatakan kamu jangan ini! Kamu harus begini! Tetapi dengan berilmu, kita bisa katakan ”jangan begini! karena sesungguhnya Allah telah melarang yang begini”

    March 20, 2009 at 2:28 am 2 comments

    Relasi antara mampu dan mau

    “ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S. At Tiin:4)

    “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Q.S. Asy Syamsy:8)

    Allah swt telah menjadikan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan. Manusia diciptakan dengan kesempurnaan. Kesempurnaan dalam artian kemampuan. Manusia diciptakan dengan kemampuannya masing-masing. Masing-masing manusia memiliki kemampuannya sendiri-sendiri. Kemampuan yang dimiliki manusia A belum tentu manusia B juga memilikinya. Di sisi lain, Allah juga mengilhamkan jalan ketaqwaan dan jalan keburukan dalam hati manusia. Ini yang disebut kemauan. Jadi setiap manusia diciptakan dengan kemampuan dan kemauan. Semua sudah ada dalam”satu paket”.

    Nah, lalu apa hubungan antara mampu dan mau? Ini yang akan dibahas. Seperti yang sudah dijelaskan di depan, bahwa manusia diciptakan dengan kemampuan dan kemauan. Dan dalam setiap manusia juga ditanamkan kekuatan untuk mengendalikan dua potensi tadi. Manusia tidak bisa berhasil dengan hanya mengandalkan salah satu potensi saja. Kedua-duanya harus saling melengkapi untu mencapai tujuan.

    Manusia sudah pasti punya kemampuan. Namun kemampuan manusia berdasarkan spesialisasinya sendiri-sendiri. Seperti, mampu memasak, mampu bersepeda, hingga mampu menjadi pemimpin bagi orang lain. Dengan memiliki kemampuan, dan mengetahui dimana letak kemampuannya, manusia bisa maju. Tetapi dengan satu syarat, yaitu mau. Ketika seseorang memiliki kemampuan namun tidak mau, ia akan statis, tidak bergerak. Namun, ketika ia tidak memiliki kemampuan tapi ia ingin, ini akan menimbulkan masalah. (more…)

    March 17, 2009 at 2:34 am Leave a comment

    Older Posts


    September 2014
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

    Recent Posts

    Visitors

    free counters

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.