Belajar dari padi
March 20, 2009 at 2:28 am 2 comments
Tidakkah kita perhatikan bulir-bulir padi yang ada di sawah-sawah? Ya, petani yang menanamnya. Suatu hari bulir-bulir itu tidak ada. Lalu ketika tanaman padi mulai dewasa, bulir-bulir itu mulai bermunculan. Perlahan tapi pasti, dari kecil terus tumbuh berkembang.
Pernahkah kita perhatikan, ketika padi itu mulai berisi, lama-kelamaan ia akan semakin merunduk. Tentu saja karena memang masanya bertambah. Namun apakah kita pernah pikirkan? Padi itu mirip dengan kita. Suatu hari kita diciptakan, lalu muncullah kita. Lalu suatu hari kita diajari berbagai hal. Belajar berbagai macam hal.
Tidakkah kita sadar? Ketika kita sedang belajar, itu seperti ketika bulir-bulir padi tumbuh. Lalu apa yang dapat kita ambil dari itu? Ya, semakin berisi padi itu, maka ia akan semakin merunduk. Begitu pula dengan kita. Semakin kita berilmu, seharusnya semakin merendah kita. Semakin berilmu seharusnya kita semakin sadar bahwa kita masik banyak belum tahu.
Semakin berilmu, seharusnya kita semakin bersyukur kepada Allah dan semakin merasa rendah di hadapan Allah. Karena kita ketahui bersama, semua ilmu asalnya dari Allah. Ketika kita mendapatkan atau mempelajari ilmu maka kita sedang mempelajari ilmu milik Allah. Nah, kalau kita sudah tahu bahwa sesungguhnya pemilik semua ilmu Allah, kembali kepada masalah awal, kita tidak boleh menyombongkan diri di hadapan manusia. Karena sesungguhnya ilmu yang kita miliki adalah kecil di hadapan ilmu Allah.
Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim?
1. Terus belajar dan belajar (menuntut ilmu). Seperti yang telah disabdakan oleh rasulullah,”menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Selain itu dari menuntut ilmu kita juga mendapat keuntungan, yaitu diangkat derajatnya oleh Allah.”Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu ’berlapang-lapanglah!’ dalam suatu majlis, maka lapangkanlah. Dan jika dikatakan kepadamu ’berdirilah!’ maka berdirilah! Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Al Mujadilah: 11)
2. Menularkan ilmu yang dimiliki kepada sesama manusia. Salah satu cara mensyukuri nikmat yang diberikan Allah untuk kita adalah memaginya kepada sesama manusia. Ilmu juga termasuk. Kita harus menebarkan kebenaran yang kita ketahui kepada sesama manusia. Selain itu ketika ilmu yang kita tularkan itu tetap dipakai hingga kita telah meninggal, pahala amalan itu tetap mengalir ke kita. Seperti yang telah disabdakan Rasulullah,”jika telah mati anak adam, terputuslah semua amalannya. Kecuali tiga perkara: sadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya.”
3. Tidak sombong di hadapan manusia. Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa ilmu kita di hadapan ilmu Allah adalah sangat kecil. Lagi pula belum tentu ilmu kita adalah yang paling tinggi di hadapan manusia lain. Selain itu Allah juga amat benci terhadap manusia yang sombong.
4. Tidak banyak bicara kecuali yang bermanfaat. Seperti bulir padi, tak akan terlihat isinya, kecuali ketika ia akan dimanfaatkan. Begitu pula kita. Ketika pembicaraan itu tak akan menimbulkan manfaat atau tidak dalam rangka menularkan ilmu, apalagi pembicaraan maksiat, lebih baik kalau kita diam saja. Seperti yang disabdakan Rasulullah,”barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam.”
5. Amar ma’ruf nahi munkar. Ketika kita punya ilmu kita dapat melakukan amalan yang satu ini. Mengapa? Karena yang satu ini memang harus di dasari dengan ilmu. Tanpa tahu ilmunya kita tidak dapat mengatakan kamu jangan ini! Kamu harus begini! Tetapi dengan berilmu, kita bisa katakan ”jangan begini! karena sesungguhnya Allah telah melarang yang begini”
Entry filed under: belajar dari ciptaan Allah. Tags: .
1.
dobod | March 22, 2009 at 6:50 am
Hebaaaat!!!!!!
Jupuk soko liyane opo nggawe dewe?
2.
zaid171 | March 23, 2009 at 6:47 am
setengah-setengah