<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Saling menasehati</title>
	<atom:link href="http://zaid171.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://zaid171.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 May 2009 23:53:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='zaid171.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Saling menasehati</title>
		<link>http://zaid171.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://zaid171.wordpress.com/osd.xml" title="Saling menasehati" />
	<atom:link rel='hub' href='http://zaid171.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Beberapa keburukan pacaran</title>
		<link>http://zaid171.wordpress.com/2009/05/16/beberapa-keburukan-pacaran/</link>
		<comments>http://zaid171.wordpress.com/2009/05/16/beberapa-keburukan-pacaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 00:46:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaid171</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaid171.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[1. Berbuat sia-sia Keburukan tingkat paling rendah dari mengadakan hubungan secara khusus dengan lawan jenis yang bukan mahram adalah menyia-nyiakan waktu. Mengapa? Sejauh pengamatan saya, hubungan semacam ini pasti dibarengi dengan berduaan, jalan bareng, atau paling tidak saling bicara secara khusus dan di dalamnya ada keadaan dimana kedua orang saling melempar kata-kata tak bermanfaat. 2. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=54&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Berbuat sia-sia</p>
<ol></ol>
<p>Keburukan tingkat paling rendah dari mengadakan hubungan secara khusus dengan lawan jenis yang bukan mahram adalah menyia-nyiakan waktu. Mengapa? Sejauh pengamatan saya, hubungan semacam ini pasti dibarengi dengan berduaan, jalan bareng, atau paling tidak saling bicara secara khusus dan di dalamnya ada keadaan dimana kedua orang saling melempar kata-kata tak bermanfaat.</p>
<p>2. Memandang yang haram</p>
<p>Seperti yang telah disebutkan, tak mungkun seorang (dua orang) yang mengadakan hubungan ini dalam keadaan saling membelakangi dan tidak saling menatap satu sama lain. Dalam keadaan ini akan terjadi sesuatu yang disebut dengan pandangan haram. Karena keduanya bukan suami istri atau mahram. Apalagi kalau salah seorang atau keduanya tidak menutup aurat secara benar. Tambah parah. Pandangan seperti ini yang akhirnya akan menimbulkan syahwat. Dan akhirnya akan mengantar ke stasiun maksiat yang sangat parah.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.&#8221; (Q.S.Annur:30)</em><em></em></p>
<p><em></em></p>
<p><em>Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya(Q.S.Annur:31)</em></p>
<p>3. Menyentuh yang haram</p>
<p>Tingkat berikutnya, menyentuh yang bukan mahram dan bukan suami atau istri. Dan telah disabdakan oleh Rasulullah, bahwa lebih baik kepala ditusuk dengan besi daripada menyentuh yang bukan haknya. Secara logika kalau ditusuk dengan besi itu lebih baik, maka hukuman untuk menyentuh yang bukan haknya tentu jauh kebih berat. Padahal kalau anak pacaran bilang,”pacaran gak afdol kalau ga gandengan tangan.” parah bukan?</p>
<p>4. Zina</p>
<p>Ini dia pelanggaran kelas berat yang salah satu pintunya adalah dengan mengadakan hubungan ”tersebut”. Kalau dalam Al Qur’an, hukumannya cukup berat. Didera seratus kali. Coba bayangkan saja, sakitnya sekali. Bagaimana kalau seratus kali. Itu kalau dihukum di dunia. Kalau mati sebelum taubat, akhiratnya? Sulit dibayangkan.</p>
<p><em>Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (Q.S.Annur:2)</em></p>
<p>5.  Aborsi</p>
<p><em> </em></p>
<p>Menurut saya yang ini adalah satu keburukan yang paling buruk diantara keburukan lain dari pacaran. Yang satu ini adalah akumulasi dari berbagai bentuk keburukan yang ada dalam pacaran. Pertama, melihat, tumbuh nafsu, lalu bergandengan tangan, lalu terjerumus ke lembah zina. Dan akhirnya, kalau zina itu menimbulkan ”akibat”, akhirnya&#8230;. pembunuhan! Meskipun yang terakhir ini tidak selalu terjadi setelah pelanggaran yang ke-4.</p>
<p>Setelah mengetahui beberapa akibat buruk dari pacaran, diharapkan para pemuda muslim lebih tahu akan dirinya. Hendaklah ia selalu ingat akan keislamannya. Hendaklah mereka ingat bagaimana memalukannya seorang pemuda yang seharusnya menjadi penerus tegaknya agama, malah melanggar dan mengacak-acak harga dirinya sebagai seorang muslim dengan melakukan pelanggaran-pelanggaran yang nyata.</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zaid171.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zaid171.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zaid171.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zaid171.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zaid171.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zaid171.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zaid171.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zaid171.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zaid171.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zaid171.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zaid171.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zaid171.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zaid171.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zaid171.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=54&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaid171.wordpress.com/2009/05/16/beberapa-keburukan-pacaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65bdc557e59820196de5ff1811bbc79d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaid171</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rahasia Pagi</title>
		<link>http://zaid171.wordpress.com/2009/05/16/rahasia-pagi/</link>
		<comments>http://zaid171.wordpress.com/2009/05/16/rahasia-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 00:34:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaid171</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaid171.wordpress.com/2009/05/16/rahasia-pagi/</guid>
		<description><![CDATA[Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al-mu’minun :9-11) Every muslim knows what is this praying, praying in islam atau sholat di dalam islam menempati kedudukan yang tak dapat ditandingi oleh ibadat manapun juga karena Sholat adalah tiang agama sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=53&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.  Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al-mu’minun :9-11)</p>
<p>Every muslim knows what is this praying, praying in islam atau sholat di dalam islam menempati kedudukan yang tak dapat ditandingi oleh ibadat manapun juga karena Sholat  adalah tiang agama sebagai mana sabda Rasulullah saw</p>
<p>” pokok urusan adalah Islam, sedang tiangnya ialah Sholat, dan puncaknya adalah berjuang dijalan allah”</p>
<p>Kita tahu bahwa islam amat menantang orang yang menyianyiakan dan mengancam orang lalai dari sholat. Sebagaimana firman Allah ’azza wa jalla.</p>
<p>Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan, (Q.S. Maryam: 59)</p>
<p>Serta,<br />
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (Q.S. al-Ma’un :4-5)</p>
<p>Pada kesempatan kali ini saya ingin membahas tentang salah satu sholat sunnah yang sering kita lupakan begitu saja padahal sholat ini memiliki keutamaan yang banyak, sebagai mana Sabda Rasullullah saw berikut</p>
<p>”Dalam tubuh manusia itu ada tigaratus enampuluh ruas tulang. Ia diharuskan bersedekah untuk tiap ruas itu. Para sahabat bertanya : “siapa yang kuat melaksanakan itu ya Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Dahak yang ada di masjid lalu ditutupnya dengan tanah, atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti sedekah, atau kiranya kuasa cukuplah diranti dengan mengerjakan dua rekaat sholat Dhuha.”</p>
<p>Syaukani says : “ Dua rekaat sholat Dhuha dapat menggantikan tigaratus enampuluh kali sedekah,” subhanallah. Sungguh kasihan kita karena ketidak tahuan kita, jika kita meninggalkan sholat ini berarti kita telah menghilangkan banyak sedekah. Astagfirullah.<br />
Selain itu ada sebuah hadits yang mengatakan kalau kita mengerjakan empat rekaart sholat Dhuha maka kita akan mendapat kebutuhan kita pada sore harinya. Dari Nuwas bin sam’an r.a bahwa Nabi saw bersabda:</p>
<p>“Allah ‘azza wa jalla berfirman: “wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rekaat pada permulaan siang (yakni sholat Dhuha), nanti akan kucukupi kebutuhanmu pada sore harinya.”</p>
<p>Hukum sholat ini adalah sunnah,sebagaimana sabda Rasulullah, yang artinya:<br />
“Rasulullah s.a.w selalu sembahyang Dhuha sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya, tetapi kalau beliau sudah meninggalkannya sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah mengerjakannya.”</p>
<p>Dan waktu mengerjakannya adalah saat matahari sudah naik kira-kira sepenggalah dan berakhir di waktu matahari lingsir, tetapi di sunnahkan mengundurkannya sampai matahari agak tinggi dan panasnya agak terik. Sebagai mana sabda beliau. Dari Zaid bin Arqam r.a</p>
<p>“Nabi s.a.w. ke luar menuju tempat ahli Quba’. Di kala itu mereka sedang bersembahyang Dhuha. Beliau lalu bersabda: ”ini adalah sholat orang-orang yang sama kembali pada Allah swt yakni di waktu anak-anak unta telah bangkit karena kepanasan waktu Dhuha.”</p>
<p>Sungguh menyesalnya kita bila kita tidak manyampatkan diri untuk melaksanakannya, padahal setiap pagi kita memiliki kesempatan untuk melakukannya, lagi pula Rasulullah pernah berkata kepada Anas r.a bahwa dua dari tiga permintaa beliau dikabulkan oleh Allah swt.<br />
Sebagai penutup kesempatan kali ini marilah kita merenungi lagi bagai manakah kehidupan kita setelah kita mengetahui keutamaan sholat Dhuha, akankah kita menjalankannya atau cuak terhadapnya jika kita ingin melakukannya karena Allah  marilah kita membuat sebuah planning-planning atau perencanaan-perencanaan atau kalau kita sudah memiliki planning kita cukup meralat atau mengubah planning- planning yang telah kita buat untuk kemudian memasukkan planning untuk melakukan sholat Dhuha sebagai kegiatan yang kontinu, misal sebulan sekali atau seminggu sekali atau seminggu dua kali atau bahkan semunggu lima kali.<br />
Dengan begitu kita bisa menyempatkan waktu sibuk kita selama beberapa menit untuk beristirahat dengan mengerjakan sholat Dhuha beberapa rekaat, secara logika bila kita memanfaat kan waktu istirahat kita untuk melaksanakan sholat Dhuha kita bisa mendapatkan dua kebaikan yaitu istirahat dan menenangkan pikiran kita serta yang kedua mendapatkan pendekatan ruhani kepada sang pencipta kita.<br />
Semoga kita bisa melaksanakan sebuah amalan yang penuh keutamaan ini dan mendapat ridho dari Allah dengan hati yang bersih dan ikhlas. Dan semoga kita termasuk kedalam orangyang diberi naungan atau syafa’at saat di padang mahsyar.</p>
<p>zhain arrasyid</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zaid171.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zaid171.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zaid171.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zaid171.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zaid171.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zaid171.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zaid171.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zaid171.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zaid171.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zaid171.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zaid171.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zaid171.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zaid171.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zaid171.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=53&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaid171.wordpress.com/2009/05/16/rahasia-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65bdc557e59820196de5ff1811bbc79d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaid171</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat Al fatihah</title>
		<link>http://zaid171.wordpress.com/2009/05/13/tafsir-surat-al-fatihah/</link>
		<comments>http://zaid171.wordpress.com/2009/05/13/tafsir-surat-al-fatihah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 23:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaid171</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaid171.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[DALAM AL-QUR’AN, surat Al-Fatihah tercatat sebagai surat ke 114, yang terdiri dari 7 ayat. Secara umum, ayat demi ayat serta surat demi surat yang ada dalam al-Qur’an memanglah penting. Ia tetap menjadi landasan spiritual yang urgen bagi setiap muslim. Keseluruhan huruf demi huruf yang ada dalam al-Qur’an menjadi pegangan teologis kaum muslimin yang tidak bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=43&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DALAM AL-QUR’AN, surat Al-Fatihah tercatat sebagai surat ke 114,<br />
yang terdiri dari 7 ayat. Secara umum, ayat demi ayat serta surat demi<br />
surat yang ada dalam al-Qur’an memanglah penting. Ia tetap menjadi<br />
landasan spiritual yang urgen bagi setiap muslim. Keseluruhan huruf demi<br />
huruf yang ada dalam al-Qur’an menjadi pegangan teologis kaum<br />
muslimin yang tidak bisa ditawar lagi. Namun, secara spesifik, surat<br />
al-Fatihah memiliki banyak “kelebihan” dibanding dengan<br />
surat-surat lain. Atau, setidaknya, ia memiliki keistimewaan berbeda<br />
dibandingkan dengan keistimewaan surat lain.<br />
Sekedar menyebut salah satu keistimewaan surat al-Fatihah adalah bahwa ia<br />
merupakan satu-satunya surat yang wajib dibaca saat seorang muslim<br />
melakukan shalat — dan shalat sendiri merupakan satu-satunya format<br />
ibadah vertikal yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Nabi Muhammad<br />
Saw bahkan bersabda bahwa shalat seorang muslim tidak sah <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">jika tidak</span><br />
membaca surat al-Fatihah (Lâ sholâta liman lam yaqra’<br />
bi-fâtihatil Kitâbi). Dalam kesempatan lain, Nabi Saw juga<br />
menyatakan bahwa al-Fatihah merupakan induk al-Qur’an<br />
(Ummul-Qur’ân). Masih banyak lagi maqôlah atau dedhawuhan<br />
Nabi Muhammad Saw yang, intinya, menegaskan kelebihan surat al-Fatihah<br />
dibanding surat-surat lain dalam al-Qur’an.<br />
***<br />
Mengapa surat al-Fatihah begitu urgen dan exclusive? Jika ditinjau dari<br />
sisi contains, materi yang dibicarakan — atau tepatnya dinasehatkan<br />
— dalam surat al-Fatihah ternyata sangatlah penting, khususnya bagi<br />
proses rekonstruksi teologi kaum muslimin atau bahkan manusia<br />
keseluruhannya. Berikut ini sedikit keterangan materi surat al-Fatihah<br />
dari ayat per ayat.</p>
<p>[1] Bismillâhirrahmânirrahîm. “Dengan menyebut nama<br />
Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.<br />
Ayat pertama ini menegaskan pentingnya penyebutan atau tepatnya pengakuan<br />
manusia atas kuasa Tuhan, atas keesaan-Nya dan atas segala kebesarann-Nya.<br />
Manusia diajarkan — dan diharuskan — mengakui ke-Maha<br />
Pemurah-an Tuhan dan ke-Maha Penyayang-an-Nya. Di sini,<br />
pengakuan-pengakuan itu merupakan harga mati atas setiap manusia. Jadi,<br />
ayat ini bukan sekedar mengajarkan ‘penyebutan’ unsich atas<br />
[nama] Tuhan, melainkan deklarasi atas kebesaran-Nya, yang pada ayat itu<br />
direpresentasikan melalui lafadz  ar-rahmân dan ar-rahîm.</p>
<p>[2] Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn. “Segala puji<br />
bagi Tuhan, [yaitu] Tuhan bagi semesta alam”.<br />
Setelah manusia mengakui segala kebesaran Tuhan, maka pada ayat kedua ini<br />
Tuhan melalui surat al-Fatihah menasehatkan manusia supaya melakukan<br />
pendekatan pribadi kepada-Nya, yaitu dengan cara memuji-Nya. Ini adalah<br />
langkah pertama yang harus dilakukan manusia setelah ia menegaskan<br />
pengakuan tadi. Sebenarnya, kebesaran Tuhan tidaklah berkurang tanpa<br />
pujian manusia dan segenap makhluk, dan kebesaran-Nya pun tidak pula<br />
bertambah dengan adanya pujian-pujian itu. Dengan demikian, ayat ini<br />
sebenarnya lebih menekankan kepada pengajaran [at-Ta’lîm] dan<br />
pendidikan [at-Tarbiyah] kepada manusia bagaimana dia berkomunikasi dengan<br />
Tuhan yang telah dikenalnya tadi.<br />
Pujian kepada Tuhan bukan tanpa sebab. Ia adalah pujian atas seluruh<br />
kenikmatan yang telah diterima manusia. Kenikmatan terbesar dari Tuhan<br />
kepada manusia, pada titik ini, adalah kenikmatan berupa pengetahuan<br />
manusia atas Tuhannya. Ia bukan kenikmatan dalam arti sempit seperti<br />
limpahan rezeki material dan semacamnya. Pada saat seorang hamba membaca<br />
ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw, maka Allah Swt<br />
mengikutinya dengan ucapan hamida-nî ‘abdî, hambaku telah<br />
memujiku. Masih menurut Nabi Muhammad Saw, pada saat hamba mengucapkan<br />
ayat ini, maka itu berarti hamba tersebut bersyukur kepada Tuhan, sehingga<br />
Tuhan pun akan menambahi rezeki.</p>
<p>[3] Arrahmânirrahîm. “[Tuhan] Yang Maha Pemurah lagi Maha<br />
Penyayang”.<br />
Pengulangan pujian ini untuk sebuah penegasan. Ar-Rahmân bermakna<br />
[Tuhan] yang Maha Pemurah, atau Pengasih. Dia mengasihi seluruh makhluk<br />
yang ada di dunia, baik yang beriman atau yang bukan. Sedangkan<br />
ar-Rahîm bermakna mengasihi seluruh orang-orang yang beriman kelak di<br />
akhirat.<br />
Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi<br />
Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan atsnâ ‘alayya<br />
‘abdî, hambaku telah memuji kepadaku.</p>
<p>[4] Mâliki Yawmiddîn. “[Tuhan] Yang menguasai <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">hari<br />
kiamat</span>”.<br />
Pengakuan sekaligus juga pujian, bahwa hanya Tuhanlah yang berkuasa pada<br />
<span class="yshortcuts">hari kiamat</span>. Ini merupakan pujian ketiga berturut-turut, dan begitulah<br />
pendidikan dari Tuhan kepada manusia.<br />
Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi<br />
Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan majida-nî<br />
‘abdî, hambaku telah memujiku.</p>
<p>[5] Iyyâka Na’budu&#8230; “<span class="yshortcuts">Hanya</span> Engkaulah yang kami<br />
sembah”&#8230;<br />
Setelah Tuhan mengajarkan manusia untuk melakukan pendekatan dengan<br />
memuji-Nya, maka pada ayat kelima ini Tuhan memberikan pendidikan baru :<br />
yaitu, setelah manusia melakukan puja dan puji kepada Tuhan, manusia<br />
meneguhkan diri dengan melakukan deklarasi untuk secara konsisten<br />
menyembah kepada-Nya.</p>
<p>Pada ayat di atas, Tuhan menggunakan kalimat Iyyâka Na’budu,<br />
yang berarti Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan bukan kalimat<br />
Na’budu-Ka, yang berarti Kami menyembah kepada-Mu. Pada kalimat<br />
pertama secara jelas menegasikan seluruh hal dan hanya menyembah Tuhan,<br />
sedangkan kalimat kedua bisa bermakna Kami menyembah kepada-Mu, tapi juga<br />
mengagungkan yang lain.</p>
<p>[5] wa Iyyâka Nasta’în. “…dan hanya kepada<br />
Engkaulah kami mohon pertolongan”.<br />
Setelah mengajari manusia tentang metode pendekatan terhadap Tuhan,<br />
beberapa pujian serta penegasan tentang sesembahan, barulah Tuhan<br />
mengajarkan bahwa setelah manusia melakukan hal itu semua, maka manusia<br />
diberi “kesempatan” untuk meminta pertolongan dan<br />
perlindungan. Dan pertolongan serta permintaan itu dilakukan manusia hanya<br />
ditujukan kepada Tuhan, bukan yang lain. Maka tepatlah kalau Tuhan<br />
menggunakan kalimat wa Iyyâka Nasta’în, yang berarti dan<br />
hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.</p>
<p>Pada saat seorang hamba membaca ayat kelima ini, sebagaimana disabdakan<br />
oleh Nabi Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan hadza baynî<br />
wa bayna ‘abdî, wa li-‘abdî mâ sa-ala, ini<br />
adalah [urusan] antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku, [kuberikan]<br />
apapun yang dia minta.<br />
Sampai pada ayat ini, kita sebenarnya sudah bisa menangkap sebagian<br />
falsafah dari surat al-Fatihah. Ringkasnya, hingga ayat ke 5 ini, adalah<br />
sebagai berikut :<br />
[i] manusia hendaklah mengenal Tuhannya, dan menjadikan Tuhannya sebagai<br />
satu-satunya elemen penting dalam melakukan sesuatu.<br />
[ii] manusia hendaklah melakukan pujian-pujian terhadap Tuhannya. Ia tentu<br />
bukan bermakna sekedar pujian secara oral, melainkan meliputi juga<br />
pengakuan penuh dari lubuk qalbu manusia atas segala kebesaran dan<br />
keagungan Tuhan. Pujian-pujian itu merupakan alat untuk melakukan<br />
pendekatan-pendekatan.<br />
[iii] setelah melakukan pujian-pujian, manusia meneguhkan diri bahwa<br />
kepada Tuhan-lah ia menyembah, dan sama sekali tidak melakukan sesembahan<br />
atau pengagungan kepada yang lain.<br />
[iv] setelah mengenal Tuhannya, melakukan pujian dan<br />
pendekatan-pendekatan, serta peneguhan ketuhanan sang Tuhan, maka manusia<br />
menyatakan diri bahwa hanya kepada-Nya pula para manusia melakukan<br />
permintaan dan pertolongan.</p>
<p>[6] Ihdinas-Shirâthal Mustaqîm. “Tunjukilah kami jalan<br />
yang lurus”,<br />
Pengajaran Tuhan selanjutnya ; manusia tidak bisa berbuat sombong, oleh<br />
karenanya ia diajarkan untuk selalu memohon dan meminta, yang dalam hal<br />
ini adalah permintaan untuk sebuah kebenaran. Dan hanya kepada Tuhan<br />
sajalah manusia itu memohon kebenaran. Makna kebenaran atau jalan yang<br />
lurus di sini tentulah tidak sederhana, namun ia disimplifikasi pada ayat<br />
berikutnya.</p>
<p>[7] Shirâthalladzîna An’amta ‘Alayhim<br />
Ghoyril-Maghdhûbi ‘Alayhim walâdh-Dhôllîn.<br />
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat<br />
kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)<br />
mereka yang sesat”.<br />
Kenikmatan Tuhan hanyalah diberikan kepada orang-orang yang Dia kehendaki,<br />
dan itu bukanlah kepada orang-orang yang dimurkai dan yang memilih jalan<br />
sendiri. Abdullah ibn Abbas menyebutkan bahwa orang-orang yang telah<br />
dianugerahi kenikmatan oleh Tuhan, di antaranya, adalah para nabi dan<br />
orang-orang yang saleh, orang yang bersih jiwanya.<br />
Pada saat seorang hamba membaca ayat keenam dan ketujuh, sebagaimana<br />
disabdakan oleh Nabi Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan<br />
— sama dengan pada ayat kelima — hadza baynî wa bayna<br />
‘abdî, wa li-‘abdî mâ sa-ala, ini adalah<br />
[urusan] antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku, [kuberikan] apapun<br />
yang dia minta.<br />
***<br />
Demikianlah sekilas keterangan dari surat al-Fatihah. Semoga bermanfaat.<br />
[Lasem, 18/4/2009].</p>
<p>M. LUTHFI THOMAFI</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zaid171.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zaid171.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zaid171.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zaid171.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zaid171.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zaid171.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zaid171.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zaid171.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zaid171.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zaid171.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zaid171.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zaid171.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zaid171.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zaid171.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=43&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaid171.wordpress.com/2009/05/13/tafsir-surat-al-fatihah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65bdc557e59820196de5ff1811bbc79d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaid171</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indahnya memaafkan</title>
		<link>http://zaid171.wordpress.com/2009/05/08/44/</link>
		<comments>http://zaid171.wordpress.com/2009/05/08/44/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 23:21:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaid171</dc:creator>
				<category><![CDATA[perbaikan diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaid171.wordpress.com/2009/05/08/44/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan: خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A&#8217;raf 7:199) Dalam ayat lain Allah berfirman: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ &#8220;&#8230;dan hendaklah mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=44&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:</p>
<p>خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ</p>
<p>Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A&#8217;raf 7:199)</p>
<p>Dalam ayat lain Allah berfirman:</p>
<p>وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ</p>
<p>&#8220;&#8230;dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.&#8221; (QS. An Nuur, 24:22)</p>
<p>Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur&#8217;an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ</p>
<p>&#8230; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)</p>
<p>Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur&#8217;an :</p>
<p>الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p>&#8220;Yaitu orang2 yang menginfakkan hartanya ketika lapang dan sempit dan menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.&#8221; (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)</p>
<p>Menurut Harun Yahya Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung. <span id="more-44"></span></p>
<p>Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur&#8217;an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.</p>
<p>Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.</p>
<p>Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang<br />
Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:</p>
<p>Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.</p>
<p>Sebuah tulisan berjudul &#8220;Forgiveness&#8221; [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.</p>
<p>Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.</p>
<p>Mulai saat inilah tidak ada kata terlambat bagi kita untuk selalu introspeksi diri, sejauh mana dada dan hati kita memaafkan kesalahan orang lain atau meminta maaf atas segala kesalahan kita. Hindari sikap egoisme dalam diri yang membuat setiap manusia lupa akan hakikat jati dirinya. Karena manusia yang besar adalah manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, tidak mudah marah, lapang dada dan hatinya serta selalu mementingkan kemaslahatan umma.</p>
<p>Oleh : Ustadz Agus Handoko</p>
<br />Posted in perbaikan diri  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zaid171.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zaid171.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zaid171.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zaid171.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zaid171.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zaid171.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zaid171.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zaid171.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zaid171.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zaid171.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zaid171.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zaid171.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zaid171.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zaid171.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=44&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaid171.wordpress.com/2009/05/08/44/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65bdc557e59820196de5ff1811bbc79d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaid171</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari pohon pisang</title>
		<link>http://zaid171.wordpress.com/2009/03/24/belajar-dari-pohon-pisang/</link>
		<comments>http://zaid171.wordpress.com/2009/03/24/belajar-dari-pohon-pisang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 03:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaid171</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar dari ciptaan Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaid171.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Pohon pisang, pohon yang bisa dibilang “multifungsi”. Buah, sama-sama kita tahu enak dan bergizi. Daun, biasa digunakan untuk membungkus makanan, membuat pepes, dsb. Dari daun, buah, bunga, bahkan batangnya dapat dimanfaatkan. Pernahkah kita perhatikan pohon pisang yang berbuah? Apa artinya ketika pohon pisang telah menampakkan buahnya? Itu berarti tinggal menghitung hari hingga saat-saat kematiannya. Namun, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=39&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pohon pisang, pohon yang bisa dibilang “multifungsi”. Buah, sama-sama kita tahu enak dan bergizi. Daun, biasa digunakan untuk membungkus makanan, membuat pepes, dsb. Dari daun, buah, bunga, bahkan batangnya dapat dimanfaatkan. Pernahkah kita perhatikan pohon pisang yang berbuah? Apa artinya ketika pohon pisang telah menampakkan buahnya? Itu berarti tinggal menghitung hari hingga saat-saat kematiannya. Namun, pernahkah kita perhatikan? Ketika pohon pisang berbuah, pasti sudah ada tunas baru tumbuh di bonggolnya.</p>
<p>Lalu, apa yang dapat diambil dari kematian pohon pisang? Ya, kita harus bisa berguna bagi orang lain sebelum ajal menjemput. Seseorang pernah berkata,”orang yang paling sukses adalah orang yang paling dapat berguna bagi orang lain.” Jadi, ketika semakin banyak orang yang sukses karena kita, di situlah letak kesuksesan kita. Tetapi, kesuksesan itu tetap ada batasannya. Kesuksesan yang seperti itu hanya dapat dicapai dengan keimanan kepada Allah. Ingat! Bahwa salah satu syarat diterimanya sebuah amal adalah keimanan kepada Allah. Seumpama kita jadi seorang motivator. Sudah ribuan orang yang kembali memiliki semangat hidup karena kita. Nama kita sudah terdengar ke mana-mana. Dan banyak orang bwerterimakasih kepada kita. Tetapi ketika semua yang kita lakukan sehingga kita mendapatkan semua itu tidak dilandasi dengan iman dan dengan tujuan hanya mencari ridha Allah, itu sama saja “nol besar”. Itu yang pertama.</p>
<p>Lalu, yang kedua yaitu strategi. Dari pohon pisang yang mati akan tumbuh satu, dua , atau bahkan tuga tunas bari. Dari yang ini dapat diambil, bahwa ketika kita sudah bermanfaat bagi orang lain, berikutnya yang harus kita pikirkan yaitu, bagaimana kemanfaatan kita itu dapat terus bermanfaat bagi orang lain di waktu mendatang. Salah satu kesuksesan yang paling mudah ditularkan adalah ilmu. Ilmu yang terus-menerus ditularkan itu seperti pohon pisang yang terus berbuah dan mengelurkan tunas. Ketika kita punya ilmu yang didapat dari guru, lalu kita amalkan. Terus kita ajarkan pada teman di sekitar kita. Lalu teman itu mengajarkan ke teman lainnya. Begitu seterusnya hingga ilmu itu akan terus digunakan dan bermanfaat. Tentu saja dengan tambahan nasehat untuk menularkan ilmu tersebut. Dengan terus digunalannya ilmu tersebur, pahala akan terus mengalir meski kita telah ,mati. Itu salah satu contoh. Dan masih banyak contoh yang lain.</p>
<p>zaid171</p>
<br />Posted in belajar dari ciptaan Allah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zaid171.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zaid171.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zaid171.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zaid171.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zaid171.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zaid171.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zaid171.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zaid171.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zaid171.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zaid171.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zaid171.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zaid171.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zaid171.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zaid171.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=39&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaid171.wordpress.com/2009/03/24/belajar-dari-pohon-pisang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65bdc557e59820196de5ff1811bbc79d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaid171</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari padi</title>
		<link>http://zaid171.wordpress.com/2009/03/20/belajar-dari-padi/</link>
		<comments>http://zaid171.wordpress.com/2009/03/20/belajar-dari-padi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 02:28:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaid171</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar dari ciptaan Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaid171.wordpress.com/2009/03/20/belajar-dari-padi/</guid>
		<description><![CDATA[Tidakkah kita perhatikan bulir-bulir padi yang ada di sawah-sawah? Ya, petani yang menanamnya. Suatu hari bulir-bulir itu tidak ada. Lalu ketika tanaman padi mulai dewasa, bulir-bulir itu mulai bermunculan. Perlahan tapi pasti, dari kecil terus tumbuh berkembang. Pernahkah kita perhatikan, ketika padi itu mulai berisi, lama-kelamaan ia akan semakin merunduk. Tentu saja karena memang masanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=30&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidakkah kita perhatikan bulir-bulir padi yang ada di sawah-sawah? Ya, petani yang menanamnya. Suatu hari bulir-bulir itu tidak ada. Lalu ketika tanaman padi mulai  dewasa, bulir-bulir itu mulai bermunculan. Perlahan tapi pasti, dari kecil terus tumbuh berkembang.<br />
Pernahkah kita perhatikan, ketika padi itu mulai berisi, lama-kelamaan ia akan semakin merunduk. Tentu saja karena memang masanya bertambah. Namun apakah kita pernah pikirkan? Padi itu mirip dengan  kita. Suatu hari kita diciptakan, lalu muncullah kita. Lalu suatu hari kita diajari berbagai hal. Belajar berbagai macam hal.<br />
Tidakkah kita sadar? Ketika kita sedang belajar, itu seperti ketika bulir-bulir padi tumbuh. Lalu apa yang dapat kita ambil dari itu? Ya, semakin berisi padi itu, maka ia akan semakin merunduk. Begitu pula dengan kita. Semakin kita  berilmu, seharusnya semakin merendah kita. Semakin berilmu seharusnya kita semakin sadar bahwa kita masik banyak belum tahu.<br />
Semakin berilmu, seharusnya kita semakin bersyukur kepada Allah dan semakin merasa rendah di hadapan Allah. Karena kita ketahui bersama, semua ilmu asalnya dari Allah. Ketika kita mendapatkan atau mempelajari ilmu maka kita sedang mempelajari ilmu milik Allah. Nah, kalau kita sudah tahu bahwa sesungguhnya pemilik semua ilmu Allah, kembali kepada masalah awal, kita tidak boleh menyombongkan diri di hadapan manusia. Karena sesungguhnya ilmu yang kita miliki adalah kecil di hadapan ilmu Allah.<br />
Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim?<br />
1.	Terus belajar dan belajar (menuntut ilmu). Seperti yang telah disabdakan oleh rasulullah,”menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Selain itu dari menuntut ilmu kita juga mendapat keuntungan, yaitu diangkat derajatnya oleh Allah.”Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu ’berlapang-lapanglah!’ dalam suatu majlis, maka lapangkanlah. Dan jika dikatakan kepadamu ’berdirilah!’ maka berdirilah! Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Al Mujadilah: 11)<br />
2.	Menularkan ilmu yang dimiliki kepada sesama manusia. Salah satu cara mensyukuri nikmat yang diberikan Allah untuk kita adalah memaginya kepada sesama manusia. Ilmu juga termasuk. Kita harus menebarkan kebenaran yang kita ketahui kepada sesama manusia. Selain itu ketika ilmu yang kita tularkan itu tetap dipakai hingga kita telah meninggal, pahala amalan itu tetap mengalir ke kita. Seperti yang telah disabdakan Rasulullah,”jika telah mati anak adam, terputuslah semua amalannya. Kecuali tiga perkara: sadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya.”<br />
3.	Tidak sombong di hadapan manusia. Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa ilmu kita di hadapan ilmu Allah adalah sangat kecil. Lagi pula belum tentu ilmu kita adalah yang paling tinggi di hadapan manusia lain. Selain itu Allah juga amat benci terhadap manusia yang sombong.<br />
4.	Tidak banyak bicara kecuali yang bermanfaat. Seperti bulir padi, tak akan terlihat isinya, kecuali ketika ia akan dimanfaatkan. Begitu pula kita. Ketika pembicaraan itu tak akan menimbulkan manfaat atau tidak dalam rangka menularkan ilmu, apalagi pembicaraan maksiat, lebih baik kalau kita diam saja. Seperti yang disabdakan Rasulullah,”barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam.”<br />
5.	Amar ma’ruf nahi munkar. Ketika kita punya ilmu kita dapat melakukan amalan yang satu ini. Mengapa? Karena yang satu ini memang harus di dasari dengan ilmu. Tanpa tahu ilmunya kita tidak dapat mengatakan kamu jangan ini! Kamu harus begini! Tetapi dengan berilmu, kita bisa katakan ”jangan begini! karena sesungguhnya Allah telah melarang yang begini”</p>
<br />Posted in belajar dari ciptaan Allah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zaid171.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zaid171.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zaid171.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zaid171.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zaid171.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zaid171.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zaid171.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zaid171.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zaid171.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zaid171.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zaid171.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zaid171.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zaid171.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zaid171.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=30&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaid171.wordpress.com/2009/03/20/belajar-dari-padi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65bdc557e59820196de5ff1811bbc79d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaid171</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Relasi antara mampu dan mau</title>
		<link>http://zaid171.wordpress.com/2009/03/17/relasi-antara-mampu-dan-mau/</link>
		<comments>http://zaid171.wordpress.com/2009/03/17/relasi-antara-mampu-dan-mau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 02:34:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaid171</dc:creator>
				<category><![CDATA[perbaikan diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaid171.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[“ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S. At Tiin:4) &#8220;Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.&#8221; (Q.S. Asy Syamsy:8) Allah swt telah menjadikan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan. Manusia diciptakan dengan kesempurnaan. Kesempurnaan dalam artian kemampuan. Manusia diciptakan dengan kemampuannya masing-masing. Masing-masing manusia memiliki kemampuannya sendiri-sendiri. Kemampuan yang dimiliki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=23&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S. At Tiin:4)</p>
<p>&#8220;Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.&#8221; (Q.S. Asy Syamsy:8)</p>
<p>Allah swt telah menjadikan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan. Manusia diciptakan dengan kesempurnaan. Kesempurnaan dalam artian kemampuan. Manusia diciptakan dengan kemampuannya masing-masing. Masing-masing manusia memiliki kemampuannya sendiri-sendiri. Kemampuan yang dimiliki manusia A belum tentu manusia B juga memilikinya. Di sisi lain, Allah juga mengilhamkan jalan ketaqwaan dan jalan keburukan dalam hati manusia. Ini yang disebut kemauan. Jadi setiap manusia diciptakan dengan kemampuan dan kemauan. Semua sudah ada dalam”satu paket”.</p>
<p>Nah, lalu apa hubungan antara mampu dan mau? Ini yang akan dibahas. Seperti yang sudah dijelaskan di depan, bahwa manusia diciptakan dengan kemampuan dan kemauan. Dan dalam setiap manusia juga ditanamkan kekuatan untuk mengendalikan dua potensi tadi. Manusia tidak bisa berhasil dengan hanya mengandalkan salah satu potensi saja. Kedua-duanya harus saling melengkapi untu mencapai tujuan.</p>
<p>Manusia sudah pasti punya kemampuan. Namun kemampuan manusia berdasarkan spesialisasinya sendiri-sendiri. Seperti, mampu memasak, mampu bersepeda, hingga mampu menjadi pemimpin bagi orang lain. Dengan memiliki kemampuan, dan mengetahui dimana letak kemampuannya, manusia bisa maju. Tetapi dengan satu syarat, yaitu mau. Ketika seseorang memiliki kemampuan namun tidak mau, ia akan statis, tidak bergerak. Namun, ketika ia tidak memiliki kemampuan tapi ia ingin, ini akan menimbulkan masalah.<span id="more-23"></span> Berikut relasi mampu dan mau:</p>
<ul>
<li>mampu + mau = klop + bisa</li>
<li>mampu      – mau = klop – bisa</li>
<li>mau      – mampu = bisa – klop</li>
<li>(-      mau) – mampu =klop – bisa</li>
</ul>
<p>Nah, dari persamaan antara mampu dan mau, dapat disimpulkan :</p>
<p>1.Ketika manusia memiliki kemampuan di suatu bidang, dan ia mau menggunakan kemampuannya, ini merupan suatu hubungan yang cocok dan akan menghasilkan keberhasilan. Sebagai contoh, Fulan adalah lulusan universtas jurusan pertanian. Lalu ia berusaha mengembangkan usaha budidaya buah naga, kemungkinan berhasilnya sangan besar, karena sejak awal memang ia punya kemampuan dan ia tahu dimana letak kemampuannya. Di samping itu ia juga mau. Jadi, dengan mengkombinasi antara kemampuan yang dimiliki dengan keinginan untuk maju, peluang keberhasilan semakin tinggi.</p>
<p>2.Ketika manusia memiliki kemampuan di suatu bidang, namun ia tidak mau menjalankan potensinya, bisa dibilang ini hubungan yang pantas tetapi akan berujung pada keadaan yang sama saja, alias tidak berkembang. Sebagai contoh, Fulan B seorang lulusan universitas jurusan teknik elektronika. Sebanarnya ia mampu dan punya pengetahuan yang cukup tentang barang-barang elektronik. Tetapi karena terlalu sering tidak diterima di perusahaan, ia akhirnya menyerah dan malah beralih menjadi tukang becak. Sungguh ironis. Sebenarnya seandainya ia mau untuk sedikit berusaha mencari modal dan mau mengambil resiko, mungkin ia bisa membuka service elektronik kecil-kecilan dengan keuntungan yang bisa digunakan untuk mengembangkan usaha. Mungkin membuat peralatan elektronik sendiri dan menjualnya. Yang keuntungannya cenderung meningkat. Daripada jadi tukang becak. Tak mungkin akan segera berkembang. Dan kemampuan yang dimiliki jadi sia-sia.</p>
<p>3.Ketika manusia mau, tetapi tidak memiliki kemampuan dalam suatu bidang, ini akan menghasilkan relasi yang bisa terjadi dan mungkin akan sukses, tetapi suksesnya adalah sukses yang hancur. Karena kemauannya tidak didasari kemampuan. Sebagai contoh, seorang peternak ikan. Ia memuliki kemampuan dalam pengetahuan tentang ikan dan kemampuan yang disebut ”telaten”. Lalu orang ini beralih menjadi guru les matematika. Padahaal ia tidak pernah kursus atau belajar matematika. Kira-kira apa yang akan terjadi? Hancur. Bukan muridnya jadi pakar matematika, malah jadi pakar ikan. Seberapapun telaten ia mengajari muridnya, ini tak akan berhasil, karena ia tidak punya kemampuan dalam bidang itu.</p>
<p>4.Ketika manusia tidak memiliki kemampuan dan tidak memiliki kemauan untuk menggali kemampuan yang lain, ini adalah relasi yang bagus, bahkan sangat pas,”hancur”. Bayangkan! Apa yang terjadi ketika seluruh warga indonesia adalah orang-orang seperti ini? Ya hancur itu tadi.</p>
<p><strong>Sebagai seorang yang beriman, seharusnya kita:</strong></p>
<ul>
<li>Belajar:      mau mempelajari ilmu pengetahuan baik ilmu agama maupun ilmu dunia. Dengan      belajar, mengkaji, dan berlatih, seorang manusia akan mendapatkan kemampuannya.      Selain dapat berguna bagi diri sendiri ilmu yang telah dipelajari juga      bisa ditularkan ke orang lain. Dan mungkin ilmu yang ditularkan bisa      menjadi bibit keberhasilan bagi orang lain. Rasulullah saw pernah      bersabda: ”mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim”</li>
<li>Berusaha:      melatih dan mengarahkan otak untuk senantiasa optimis dan yakin akan      pertolongan Allah. Dengan yakin akan pertolongan Allah kemauan akan      timbul. Mengapa? Karena dengan adanya penolong yang pasti ada, itu akan      menumbuhkan harapan, harapan akan sesuatu yang masih sangat mungkin      terjadi. “Sesungguhnya Allah tidak      merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada      diri mereka sendiri.(Q.S. Ar Ra&#8217;d:11)</li>
</ul>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p>1. Seorang manusia sudah pasti memiliki kemampuan, tinggal bagaumana ia menggali dan mengembangkan kemampuannya tersebut</p>
<p>2. Untuk berhasil, kemampuan yang ada harus dibarengi dengan ’kemauan untuk maju’ dan ’harapan untuk berhasil’.</p>
<p>3. Potensi yang telah disebutkan, tidak bisa berdiri sendiri. Harus saling beriringan. Seorang da’i tak munkin bisa berdakwah kalau tak punya materi yang disampaikan. Sedangkan seorang yang punya materi dakwah tak akan jadi da’i kalau tak mau menyampaikannya.</p>
<p>zaid171</p>
<br />Posted in perbaikan diri  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zaid171.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zaid171.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zaid171.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zaid171.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zaid171.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zaid171.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zaid171.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zaid171.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zaid171.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zaid171.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zaid171.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zaid171.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zaid171.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zaid171.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=23&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaid171.wordpress.com/2009/03/17/relasi-antara-mampu-dan-mau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65bdc557e59820196de5ff1811bbc79d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaid171</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jagalah Mata, Jagalah Hati</title>
		<link>http://zaid171.wordpress.com/2009/02/13/jagalah-mata-jagalah-hati/</link>
		<comments>http://zaid171.wordpress.com/2009/02/13/jagalah-mata-jagalah-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 03:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaid171</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaid171.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=20&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya. Untuk melihat, mengamati, dan kemudian otak ikut bekerja untuk mengambil keputusan. Bila seseorang memiliki niat untuk melakukan amal yang baik, maka mata menuntunnya kearah yang baik pula. Dan bila seseorang berniat melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, maka mata akan menuntunnya kearah yang tidak baik pula. Sebaliknya bisa pula terjadi, ketika mata melihat sesuatu yang menarik, lalu melahirkan niatan untuk memperoleh kenikmatan dari hal yang dilihatnya, maka hati akan mendorong mata untuk menjelajah lebih jauh lagi, agar dia memperoleh kepuasan dalam memandangnya. Sehingga Allah SWT memberikan kepada kita semua rambu-rambu yang sangat antisipatif, yaitu perintah untuk menundukkan pandangan. Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 30-31 Allah swt berfirman: Artinya: &#8220;Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat&#8221;. &#8220;Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. &#8221; (QS. An Nuur: 30-31). Demikianlah hal yang terjadi, sehingga ketika manusia terpuruk dalam kesesatan, maka terjadilah dialog antara mata dan hati, seperti yang dituturkan oleh seorang ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam bukunya &#8220;Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu&#8221;. Hati berkata kepada Mata: “Kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak sehat, kau salahi firman Allah, &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya&#8221; (An-Nur 30), dan kau salahi sabda Rasulullah Saw yang artinya, &#8220;Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan didapati kelezatannya di dalam hatinya&#8221;. (H.R. Ahmad)”. Kemudian mata menjawab<span id="more-20"></span> dan menyanggah perkataan hati. Mata berkata: “Kau zhalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun yang menunjukkan jalan kepadamu. Engkau adalah raja yang ditaati. Sedangkan kami hanyalah rakyat dan pengikut. Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. Jika kau suruh aku untuk menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk menggembala di kebun yang dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu di tempat yang dipasangi jebakan, tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang pemimpin, engkau menjadi budak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang demikian itu karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah Saw, telah membuat keputusan bagiku atas dirimu, dengan bersabda: &#8220;Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati.&#8221; (H.R. Bukhori Muslim). Abu Hurairah Ra. Berkata, &#8220;Hati adalah raja dan seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula pasukannya. Jika raja buruk, buruk pula pasukannya&#8221;. Jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu (wahai hati), dan kebaikan mereka adalah karena kebaikanmu. Jika engkau rusak, rusak pula para pengikutmu. Lalu engkau lemparkan kesalahanmu kepada mata yang tak berdaya. Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta kepada Allah, tidak menyukai dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, ‘asma dan sifat-sifat-Nya. Engkau beralih kepada yang lain dan berpaling dari-Nya. Engkau berganti mencintai selain-Nya.” Demikianlah, mata dan hati, sepasang sekutu yang sangat serasi. Bila mata digunakan dengan baik, dan hati dikendalikan dengan keimanan kepada Allah SWT, maka kerusakan dan kemungkaran dimuka bumi ini tak akan terjadi. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerusakan dan bala bencanalah yang senantiasa menyapa kita. Tentang menahan pandangan mata, Imam Ibn al-Qoyyim mengatakan dalam kitabnya, al-Jawab al Kafi hal. 129: “Pandangan mata adalah duta syahwat. Menjaga pandangan adalah pangkal penjagaan farj (kemaluan). Barang siapa melepas bebas pandangan matanya, berarti telah mengiring dirinya menuju lubang-lubang kehancuran. Nabi saw bersabda: Artinya: “Wahai Ali, janganlah engkau turutkan kilasan pandangan (pertama) dengan pandangan (berikutnya). Tidak mengapa untukmu kilasan awal pandangan.” Maksud ‘kilasan’ awal pandangan adalah kilasan pandangan spontanitas yang terjadi tanpa kesengajaan” Imam Ibn Qoyyim mengatakan didalam musnad al-imam ahmad ibn hambal, tertera hadist dari Rasulullah saw: “Pandangan mata itu laksana anak panah yang beracun dari anak panah-anak panah iblis” Selanjutnya beliau (Imam Ibn Qoyyim) mengatakan: “Pandangan mata adalah pangkal segala bencana yang menimpa manusia, karena pandangan itu melahirkan detikan hati; detikan hati melahirkan pikiran melayang; pikiran melayang melahirkan nafsu birahi; nafsu birahi melahirkan hasrat; hasrat itu kemudian menguat sampai menjadi tekad yang kuat. Karenanya, tidak boleh tidak, akan terjadilah perbuatan, selagi tidak ada sesuatu hal yang menghalangi”. Oleh sebab itu, ada pujangga yang mengatakan: “Bersabar menahan pandangan mata adalah lebih mudah daripada bersabar terhadap pedihnya derita setelah pandangan itu”. Karena itu sudah sewajarnya kita menahan pandangan mata dari memandang lelaki atau memandang wanita. Hendaklah kita tidak melihat gambar-gambar yang yang merangsang, yang dipancang di sebagian majalah atau digelar di layar televisi maupun video. Dengan itu, niscaya kita selamat dari dampak buruk. Berapa banyak kilasan pandangan mata yang menyeret seseorang menuju penyesalan dan kegelisaan yang tak berujung. Gejolak api yang membara terjadi akibat percikan api yang dipandang kecil. Oleh karena itu, sepatutnyalah kita sebagai manusia yang lemah selalu berdo’a dan memohon kepada Allah swt agar Ia selalu membimbing hati-hati kita, dan agar kita mampu membimbing hati-hati kita kejalan yang Ia ridhoi. Dan semoga kita mampu membawa dan menjaga amanah nikmat memandang, sehingga kita tidak menyalahi anugrah terbesar ini untuk melihat hal-hal yang tidak Ia ridhoi. Ya Allah, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan hati kami dengan keimanan kepada-Mu, mengutamakan cinta kepada-Mu, dan tidak pernah berpaling dari-Mu. Ya Allah, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan mata/ pandangan kami kearah yang Engkau ridhoi. Jauhkan kami dengannya menuju penglihatan dari pandangan-pandangan yang Engkau haramkan sehingga menyebabkan kami terjerumus kejurang maksiat.. Allaahumma ‘aafina fii badaninai, Allaahumma ‘aafina fii sam’ina, Allahumma ‘aafina fii qolbinaa, Allaahumma ‘aafina fii bashorina. Aamiin.</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zaid171.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zaid171.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zaid171.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zaid171.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zaid171.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zaid171.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zaid171.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zaid171.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zaid171.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zaid171.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zaid171.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zaid171.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zaid171.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zaid171.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=20&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaid171.wordpress.com/2009/02/13/jagalah-mata-jagalah-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65bdc557e59820196de5ff1811bbc79d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaid171</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dahsyatnya Shalawat</title>
		<link>http://zaid171.wordpress.com/2009/02/10/dahsyatnya-shalawat/</link>
		<comments>http://zaid171.wordpress.com/2009/02/10/dahsyatnya-shalawat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 23:49:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaid171</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaid171.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Ada empat perbuatan ringan yang apabila kita lakukan, maka kita termasuk golongan orang yang tidak terpuji. 1. Seseorang yang membuang air kecil sambil berdiri, 2. Seseorang yang mengusap dahinya sebelum selesai dari shalat, 3. Seseorang yang mendengar adzan tetapi ia tidak menirukan seperti apa yang diucapkan muadzin, 4. seseorang yang apabila mendengar nama Nabi Muhammad [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=11&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada empat perbuatan ringan yang apabila kita lakukan, maka kita termasuk<br />
golongan orang yang tidak terpuji.<br />
1. Seseorang yang membuang air kecil sambil berdiri, 2. Seseorang yang<br />
mengusap dahinya sebelum selesai dari shalat, 3. Seseorang yang mendengar<br />
adzan tetapi ia tidak menirukan seperti apa yang diucapkan muadzin, 4.<br />
seseorang yang apabila mendengar nama Nabi Muhammad Saw disebut, tetapi<br />
tidak membacakan shalawat atasnya.</p>
<p>Sabda Nabi Muhammad Saw:</p>
<p>Artinya:<br />
“Empat perbuatan termasuk perbuatan yang tidak terpuji, yaitu (1)<br />
bila seseorang buang air kecil sambil berdiri, (2) seseorang yang mengusap<br />
dahinya sebelum selesai dari shalat, (3). Seseorang yang mendengar adzan<br />
tetapi ia tidak menirukan seperti yang diucapkan muadzin, (4) seseorang<br />
yang apabila mendengar namaku disebut, tetapi ia tidak membacakan shalawat<br />
atasku. (HR. Bazzar dan Tabhrani)</p>
<p>Dalam ibadah sehari-hari, sebenarnya ada sebuah perbuatan ringan yang<br />
apabila kita lakukan mendatangkan akibat yang maha dahsyat, dan<!--selengkapnya--> apabila<br />
kita tinggalkan maka kita termasuk golongan orang yang tidak berbalas<br />
budi.<br />
Pada saat kita telah diberi bantuan oleh orang lain, sudahlah pasti akan<br />
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, atau mungkin mengucapkan doa<br />
untuk kebaikannya. Begitu pula dengan Rasulullah Saw yang telah<br />
mengeluarkan kita dari lembah kegelapan menuju alam terang benderang,<br />
maka sudahlah pantas bagi kita untuk selalu mengucapkan sholawat dan<br />
salam atas beliau, sebagai ungkapan rasa terima kasih dan kecintaan kita<br />
atas segala jasa dan perjuangan yang tak tertandingi di alam jagad ini.<br />
Dalam ibadah-ibadah lain, <span class="yshortcuts">Allah Swt</span> memerintahkan kepada hamba-hambaNya<br />
untuk mengerjakannya, namun khusus dalam perintah membaca shalawat, <span class="yshortcuts">Allah<br />
Swt</span> menyebutkan bahwa Allah sendiri bershalawat atasnya, kemudian<br />
memerintahkan kepada malaikatNya, baru kemudian pada orang-orang yang<br />
beriman untuk bershalawat atasnya. Dengan hal ini semakin menunjukkan<br />
bahwasanya melakukan shalawat atas Nabi muhammad saw, tidak cuma sekedar<br />
ungkapan terima kasih, tetapi ia juga menjadi ibadah yang utama.</p>
<p>Bila kita ingin mengetahui bahwa shalawat termasuk ibadah yang utama,<br />
maka perhatikan dan renungkan <span class="yshortcuts">firman Allah Swt</span> dalam al-Quran:</p>
<p>“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya, bershalawat atas Nabi,<br />
wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkan<br />
salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab 56).</p>
<p>Dari ayat tersebut kita mengetahui, Allah Swt saja sang Pencipta jagad<br />
raya dan mahkluk seluruh dunia termasuk diri kita yang kecil ini, mau<br />
bershalawat terhadap Nabi Muhammad Saw, dan juga para malaikat yang telah<br />
dijamin tak akan berbuat kesalahan turut bershalawat terhadap nabi,<br />
mengapa diri kita yang telah diselamatkan beliau masih melupakan ibadah<br />
yang teramat mulia ini. Sesungguhnya perbuatan seseorang menunjukkan pada<br />
perangai dirinya.</p>
<p>Shalawat adalah sebuah ibadah yang tidak berbatas alam, jarak ataupun<br />
waktu. Artinya bila diucapkan maka akan menembus alam langit yang sangat<br />
jauh, didengar para malaikat, lalu turut menyampaikan doa bagi manusia<br />
yang mengucapkannya, dan menembus <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;">Alam kubur</span> menyampaikan salam yang<br />
diucapkan manusia kepada Nabi Muhammad Saw.<br />
Nabi Saw bersabda:<br />
“Tidak ada salah seorang di antara kamu yang mengucapkan salam<br />
kepadaku sesudah aku mati melainkan malaikat jibril datang kepadaku seraya<br />
mengucapkan: ‘wahai Muhammad, ini Fulan bin Fulan mengucapkan salam<br />
untukmu, maka aku menjawab: “dan atasnya salam dan rahmat serta<br />
berkah dari Allah”. (HR. Abu Daud)</p>
<p>Lalu apa fadhilah mengucapkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi<br />
Besar Muhammad Saw?<br />
Ada beberapa riwayat dari hadist Rasulullah Saw, Atsar sahabat Radiallahu<br />
anhum dan pengalaman beberapa ulama yang mengisyaratkan imbalan bagi<br />
mereka yang mau bershalawat.</p>
<p>1). Shalawat membersihkan dosa<br />
Sabda Nabi Saw:<br />
“bacalah shalawat atasku karena sesungguhnya shalawat atasku<br />
membersihkan dosa-dosamu, dan mintalah kepada Allah untukku<br />
wasilah”. Para sahabat bertanya: “apakah wasilah itu?”<br />
beliau menjawab: “derajat yang paling tinggi di sorga yang hanya<br />
seorang saja yang akan memperolehnya dan aku berharap semoga akulah orang<br />
yang memperolehnya”.</p>
<p>2). Shalawat berpahala sepuluh rahmat Allah dan menghapus sepuluh kesalahan<br />
Sabda Nabi Saw:<br />
“barangsiapa yang membaca shalawat atasku satu shalawat maka Allah<br />
akan menurunkan sepuluh rahmat kepadanya dan menghapus sepuluh<br />
kesalahannya” (HR. Nasai)</p>
<p>3). Dikabulkan hajat di dunia dan akhirat<br />
Sabda beliau Saw:ז<br />
“barangsiapa yang membacakan shalawat untukku pada suatu hari<br />
seratus kali, maka Allah akan memenuhi seratus hajatnya, 70 di antaranya<br />
nanti di akhirat dan 30 di dunia. (Kitab Jam’ul Jawami’, Hal:<br />
796)</p>
<p>4). Terangkatnya derajat manusia<br />
Sabda beliau Saw:<br />
“barangsiapa di antara umatku yang membacakan shalawat atasku satu<br />
kali dengan ikhlas dari lubuk hatinya, maka Allah menurunkan sepuluh<br />
rahmat kepadanya, mengangkat sepuluh derajat kepadanya, dan menghapus<br />
sepuluh kesalahan”. (HR. Nasai)</p>
<p>5). Menjadikan doa cepat terkabul<br />
Bahwasanya Umar bin Khattab Ra berkata: “Saya mendengar bahwa doa<br />
itu ditahan diantara langit dan bumi, tidak akan dapat naik, sehingga<br />
dibacakan shalawat atas nabi Muhammad Saw”. (Atsar Hasan, Riwayat<br />
Tirmidzi)</p>
<p>Ada sebuah cerita, bahwasanya ulama besar Sufyan ats Tsauri sedang thawaf<br />
mengelilingi ka’bah dan melihat seseorang yang setiap kali<br />
mengangkat kaki dan menurunkannya senantiasa membaca shalawat atas nabi.<br />
Sufyan bertanya: “Sesungguhnya engkau telah telah tinggalkan tasbih<br />
dan tahlil, sedang engkau hanya melakukan shalawat atas Nabi. Apakah ada<br />
bagimu landasan yang khusus? Orang itu menjawab: “Siapakah engkau?<br />
Semoga Allah mengampunimu. Sufyan menjawab: “Saya adalah sufyan ats<br />
tsauri”. Orang itu berkata: “seandainya kamu bukanlah orang<br />
yang istimewa di masamu ini niscaya saya tidak akan memberitahukan masalah<br />
ini dan menunjukkan rahasiaku ini”.<br />
Kemudian orang itu berkata kepada sufyan: “sewaktu saya mengerjakan<br />
haji bersama ayahku, dan ketika berada di dekat kepalanya ayahku meninggal<br />
dan mukanya tampak hitam, lalu saya mengucapkan “innalillah wa inna<br />
ilahi rajiun” dan saya menutup mukanya dengan kain. Kemudian saya<br />
tertidur dan bermimpi, dimana saya melihat ada orang yang sangat tampan,<br />
sangat bersih dan mengusap muka ayahku, lalu muka ayahku itu langsung<br />
berubah menjadi putih. Saat orang yang tampan itu akan pergi, lantas saya<br />
pegang pakaiannya sambil bertanya: “wahai hamba Allah siapakah<br />
engkau? Bagaimana lantaran kamu Allah menjadikan muka ayahku itu langsung<br />
berubah menjadi putih di tempat yang istimewa ini?. Orang itu menjawab:<br />
“apakah kamu tidak mengenal aku? Aku adalah Muhammad bin Abdullah<br />
yang membawa al-Quran. Sesungguhnya ayahmu itu termasuk orang yang<br />
melampaui batas (banyak dosanya) akan tetapi ia banyak membaca shalawat<br />
atasku. Ketika ia berada dalam suasana yang demikian, ia meminta<br />
pertolongan kepadaku, maka akupun memberi pertolongan kepadanya, karena<br />
aku suka memberi pertolongan kepada orang yang banyak memperbanyak<br />
shalawat atasku”. Setelah itu saya terbangun dari tidur, dan saya<br />
lihat muka ayahku berubah menjadi putih. (Dari Kitab: Tanbihun Ghofilin,<br />
as-Samarqhondi, hal: 261)</p>
<p>Begitu dahsyatnya balasan shawalat terhadap Nabi Saw. sehingga bagi<br />
siapapun yang mengucapkannya akan melibatkan Allah, para malaikat dan Nabi<br />
Muhammad Saw langsung membalasnya, tidak cuma balasan pahala, imbalan atau<br />
keselamatan di akhirat, tetapi juga mendapat syafaat dari Nabi Muhammad<br />
Saw.<br />
Orang yang mendengar shalawat atas nabi, tetapi tidak menjawabnya lalu ia<br />
meninggal dan masuk neraka, maka Allah menjauhkan dari RahmatNya.<br />
Sabda Nabi:<br />
“Jibril datang kepadaku dan berkata: “wahai Muhammad,<br />
barangsiapa yang mendapatkan <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;">bulan ramadhan</span> namun ia tidak diampuni<br />
dosanya, lalu ia mati dan masuk neraka, maka Allah akan menjauhkan dari<br />
RahmatNya. Aku menjawab: “amin”. Jibril berkata lagi:<br />
“barangsiapa yang masih bertemu dengan kedua orangtuanya atau salah<br />
satu diantaranya kemudian tidak berbuat baik pada orang tuanya, lalu mati<br />
dan masuk neraka, maka Allah menjauhkan dari rahmatNya. Aku menjawab:<br />
“Amin”. Jibril berkata lagi: “barangsiapa yang<br />
disebutkan namamu (muhammad) namun ia tidak membacakan shalawat lalu ia<br />
mati dan masuk neraka, maka Allah menjauhkan dari rahmatNya. Aku<br />
mengucapkan “Amin”. (HR. Ibnu Hibban).</p>
<p>Ucapkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad Saw, disaat kita senggang,<br />
disaat akan menggubah posisi kegiatan kita, disaat kapanpun, dimanapun<br />
selagi kita mampu. Dan bila ada yang mengucapkan shalawat:<br />
Jangan lupakan shalawat, karena bila kita lupa berarti kita telah<br />
melupakan seseorang yang telah menunjukkan kita kejalan yang lurus yaitu<br />
Nabi Muhammad Saw. bila kita telah melupakan shalawat berarti kita telah<br />
melupakan dan keliru dari jalan yang seharusnya kita tempuh menuju sorga.<br />
“barangsiapa yang lupa membaca shawalat atasku, berarti ia telah<br />
keliru dari jalan ke sorga” (HR. Ibnu majah).</p>
<p>Ustadz Abdul Rahim Yunus, MA</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zaid171.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zaid171.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zaid171.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zaid171.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zaid171.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zaid171.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zaid171.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zaid171.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zaid171.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zaid171.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zaid171.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zaid171.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zaid171.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zaid171.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=11&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaid171.wordpress.com/2009/02/10/dahsyatnya-shalawat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65bdc557e59820196de5ff1811bbc79d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaid171</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Para Nabi Pun Berdoa</title>
		<link>http://zaid171.wordpress.com/2009/02/10/para-nabi-pun-berdoa/</link>
		<comments>http://zaid171.wordpress.com/2009/02/10/para-nabi-pun-berdoa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 23:43:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaid171</dc:creator>
				<category><![CDATA[meneladani para nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaid171.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Ada banyak keluhan yang dirasakan oleh orang-orang yang berdoa. Mereka meminta kepada Allah, tetapi belum mendapatkan jawaban dari doanya. Sehingga akhirnya muncul rasa pesimis, bahwa Allah tidak mendengarkan keluhan dan kesusahannya. Mengapa? Pada hakikatnya –sebagaimana ayat diatas “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan aku kabulkan”- adalah sebuah janji yang mutlak tidak mungkin diingkari oleh Allah Swt. karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=13&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada banyak keluhan yang dirasakan oleh orang-orang yang berdoa. Mereka<br />
meminta kepada Allah, tetapi belum mendapatkan jawaban dari doanya.<br />
Sehingga akhirnya muncul rasa pesimis, bahwa Allah tidak mendengarkan<br />
keluhan dan kesusahannya. Mengapa?<br />
Pada hakikatnya –sebagaimana ayat diatas “Berdoalah kepadaKu,<br />
niscaya akan aku kabulkan”- adalah sebuah janji yang mutlak tidak<br />
mungkin diingkari oleh Allah Swt. karena sesungguhnya Allah tidak<br />
menyalahi janji (QS. Ra’d: 31).</p>
<p>Sabda Rasulallah Saw:<br />
“Tidak ada seorang muslim yang berdoa melainkan akan dikabulkan, ada<br />
kalanya disegerakan didunia, ada kalanya disimpankannya untuknya di<br />
akhirat. Dan ada kalanya digunakan untuk menghapuskan dosa-dosanya sesuai<br />
dengan kadar doa yang ia ucapkan selama ia tidak berdoa untuk dosa atau<br />
memutuskan tali persaudaraan”.</p>
<p>Dan beliaupun bersabda:<br />
“Nanti pada hari kiamat Allah Swt akan memperlihatkan setiap doa<br />
yang dipanjatkan oleh setiap orang sewaktu di dunia yang tidak Allah<br />
kabulkan, dimana Allah berfirman: Hambaku, pada suatu hari kamu<br />
memanjatkan doa kepadaku, namun Aku tahan doamu itu, maka inilah pahala<br />
sebagai pengganti doamu itu”. Orang yang berdoa itu terus menerus<br />
diberi pahala sehingga ia berharap kiranya semua doanya itu hanya dibalas<br />
di akhirat saja dan tidak diberikan di dunia”.</p>
<p>Dari kedua hadist diatas, <span id="more-13"></span>kita akan mengerti bahwa tidak semua apa-apa<br />
yang kita minta (doa) kepada Allah, tidak selalu baik untuk dikabulkan di<br />
dunia. Tetapi boleh jadi akan lebih baik bila diterima di akhirat kelak.<br />
Dan pada saat kita berdoa memohon kepada Allah, pada hakikatnya kita<br />
berada pada posisi dekat kepada Allah, sehingga walau tak dikabulkan di<br />
dunia, malah menjadi pahala penghapus dosa-dosa lalu. Lalu mengapa kita<br />
tidak berdoa?</p>
<p>Berdoa adalah ibadah. <!--selengkapnya-->Bahkan dikatakan sebagai ruhnya ibadah. Orang yang<br />
hidupnya tidak dilewati dengan berdoa maka ia adalah makhluk yang sombong.<br />
Padahal perilaku sombong adalah termasuk bagian sifat penghuni jahanam.</p>
<p>Sabda Rasulallah Saw:</p>
<p>Doa itu adalah ibadah. Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala<br />
(yang artinya): “Dan Tuhanmu berfirman: “berdoalah kepadaKu,<br />
niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang<br />
menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahanam dalam<br />
keadaan hina dina”</p>
<p>Abu Dzar al-Ghifari berkata: Doa itu melengkapi amal kebajikan sebagaimana<br />
garam melengkapi makanan.</p>
<p>Seseorang yang berdoa hendaknya jangan tergesa-gesa, karena sesungguhnya<br />
orang yang berdoa kepada Allah niscaya akan dikabulkan segera atau lambat.<br />
Kadang kala permohonannya dikabulkan seketika, kadangkala dikabulkan pada<br />
waktu yang agak lama, kadang kala tidak dikabulkan di dunia dan nanti akan<br />
diganti dengan pahala di akhirat.<br />
Setiap kita hendaknya selalu memposisikan diri sebagai hamba Allah yang<br />
berdoa, menangis di keheningan malam, memohon ampunan atas segala dosa di<br />
masa lalu. Memohon limpahan kemudahan hidup serta diselamatkan kelak dari<br />
api neraka.<br />
Manusia yang merasa telah cukup puas dengan apa yang didapatkan didunia<br />
sehingga tidak mau berdoa adalah termasuk manusia yang merugi karena<br />
kesombongannya di hadapan Allah Swt.<br />
Para nabi dan rasulpun selalu menengadahkan tangan memohon dan berdoa<br />
kepada Allah Swt siang dan malam tanpa lelah. Mereka yang telah dijamin<br />
kebahagiaan di akhirat kelak masih mau meminta pertolongan Allah. Sedang<br />
kita yang belum tahu di mana tempat akhir persinggahan masih melalaikan<br />
fasilitas doa yang telah disedia di dunia.</p>
<p>Sebagai suri tauladan kita dapat temukan beberapa kisah para nabi dan<br />
rasul yang berdoa untuk mendapatkan hajat dan keinginan mereka. Seperti:</p>
<p>1. Nabi Adam As bapak para manusia memohon ampunan karena telah mendzalimi<br />
dirinya memakan buah khuldi di surga. Saat diturunkan didunia, setiap<br />
hamparan tanah tak terlepas dari tetesan air mata penyesalan beliau. Doa<br />
beliau:</p>
<p>&#8220;Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau<br />
tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah<br />
kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raf: 23)</p>
<p>2. Nabi Ibrahim As bapak para nabi mendoakan tanah suci makkah sebagai<br />
tanah yang diberkati oleh Allah, sehingga walau pun terdiri dari tanah<br />
yang tandus dan berbatuan, tetapi selalu dilimpahi rahmat dari berbagai<br />
buah-buah.</p>
<p>&#8220;Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan<br />
berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara<br />
mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (Albaqoroh: 126)</p>
<p>3. Nabi Musa as, nabi yang telah menyelamatkan bani Israil dari kukungan<br />
Firaun di mesir, pada saat beliau mendapat kesusahan untuk berdakwah<br />
karena cacat pada lidahnya, maka ia berdoa:</p>
<p>&#8220;Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku<br />
urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti<br />
perkataanku ( QS. Thoha: 25-28 )</p>
<p>4. Nabi Sulaiman As, seorang yang mendapat kenikmatan dunia yang luar<br />
biasa, yang memiliki kekuasaan atas jin, manusia, binatang, angin dan air<br />
masih mampu mengucapkan doa.</p>
<p>&#8220;Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah<br />
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk<br />
mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan<br />
rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.&#8221; (QS. An-Naml: 19)</p>
<p>Masih banyak doa-doa yang diucapkan para nabi dalam al-Quran, yang<br />
tentunya bila kita mau mentadaburi nya kita akan menjadi malu. Alangkah<br />
sombongnya kita, alangkah angkuhnya kita, alangkah malangnya diri kita<br />
yang telah menyia-nyiakan waktu dan umur kita dari perbuatan doa kepada<br />
Allah sedang para Nabi pun berdoa.</p>
<p>Berdoalah, agar kita selamat di dunia dan akhirat.</p>
<br />Posted in meneladani para nabi, Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zaid171.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zaid171.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zaid171.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zaid171.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zaid171.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zaid171.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zaid171.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zaid171.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zaid171.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zaid171.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zaid171.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zaid171.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zaid171.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zaid171.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zaid171.wordpress.com&amp;blog=4608589&amp;post=13&amp;subd=zaid171&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaid171.wordpress.com/2009/02/10/para-nabi-pun-berdoa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65bdc557e59820196de5ff1811bbc79d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaid171</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
